31 Mei 2013
SUAMI YANG MENIPU ISTRINYA
Pernikahan itu telah berjalan empat (4) tahun, namun pasangan suami istri itu belum dikaruniai seorang anak. Dan mulailah kanan kiri berbisik-bisik:“kok belum punya anak juga ya, masalahnya di siapa ya? Suaminya atau istrinya ya?”. Dari berbisik-bisik, akhirnya menjadi berisik. Tanpa sepengetahuan siapa pun, suami istri itu pergi ke salah seorang dokter untuk konsultasi, dan melakukan pemeriksaaan. Hasil lab mengatakan bahwa sang istri adalah seorang wanita yang mandul, sementara sang suami tidak ada masalah apa pun dan tidak ada harapan bagi sang istri untuk sembuh dalam arti tidak peluang baginya untuk hamil dan mempunyai anak.
29 Maret 2013
RIWAYAT HIDUP KYAI IDRIS JAUHARI
Wafat : Kamis, 08 Sya’ban 1433 H/28 Juni 2012 Pukul 06.55 WIB
Nama Ayah : KH. Ach. Djauhari Chotib
Nama Ibu : Ny. Hj. Maryam
Anak : Ke-3 dari 3 bersaudara
Nama Isteri : Ny. Hj. Zahrotul Wardah, BA.
26 Februari 2013
MEMAKNAI HAJI
RENUNGAN MAULID
9 Juli 2012
KH.BAHAUDDIN MUDHORY: DIALOG KETUHANAN YESUS
Di dunia tercatat berbagai kepercayaan dan agama yang masing-masing mengklaim dirinya sebagai agama paling benar, dan lainnya sesat. Diantaranya adalah agama Kristen yang memiliki pemeluk terbesar di dunia. Dengan figur Yesus sebagai Tuhan dan Penebus dosa, Kristen setiap saat menyapa manusia untuk menerima doktrin dan ajarannya. Tetapi, setiap ia berbenturan dengan keyakinan lain, terutama dengan Islam, Alkitab atau Bible sebagai kitab suci agama Kristen selalu dipertanyakan: "Apakah ia benar-benar berasal dari Tuhan?". Begitu juga dengan Yesus: "Dia manusia ataukah Tuhan?".
8 Oktober 2011
MELACAK ASAL USUL FOTO NABI MUHAMMAD
Dikirim oleh : Raziq HasanPada Oktober tahun 2009 yang lalu, kaum muslimin di Indonesia sempat digemparkan dengan berita beredarnya pin bergambar sosok yang diberi label dan dikatakan sebagai Nabi Muhammad. Pin yang beredar di Makassar, Sulawesi Selatan itu menampilkan gambar pasfoto seorang pemuda arab yang mengenakan surban dengan selipan bunga di salah satu telinganya. Pemuda tersebut tampak memikat dengan senyuman yang memperlihatkan sederet gigi-gigi putihnya. Dikatakan bahwa itu adalah gambar Nabi Muhammad saat muda, sebelum diangkat sebagai utusan Allah.
29 Agustus 2011
JADIKAN HAMBA BENAR-BENAR BERTAKBIR
Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, selain Engkau adalah kecil. Hati kami bergetar dengan penuh rasa takut tatkala atasan kami di kantor marah. Hati kami bingung tatkala kami mendengar ancaman pemecatan hubungan kerja dari bos kami. Hati kami gundah dan gelisah tatkala gaji kami habis di pertengahan bulan. Kami menangis tatkala ditimpa kerugian material yang cukup besar. Namun hati kami tak bergetar sedikitpun ketika mendengar ancaman neraka-Mu. Hati kami tak gelisah ketika mendengar ancaman siksa-Mu yang amat pedih. Ya Allah masihkah di hati kami ini ada sedikit rasa takut kepada-Mu ?. Ya Allah masihkah di hati kami ada ketaqwaan kepada Engkau ? Mengapa kebesaran-Mu yang Maha Besar itu tak lagi menakutkan kami ? Mengapa ancaman-Mu yang sangat luar biasa itu tak lagi menggetarkan hati kami ? Ya Allah, Ampunilah kami ! Karuniakan pada kami, ketakutan dan ketaqwaan berhadapan dengan kebesaran-Mu, sebagaimana Engkau mengaruniakannya kepada para nabi-Mu, para sahabat, para wali Mu dan para ulama-Mu yang ikhlash. Karena hanya Engkau yang Maha Pengampun yang bisa mengampuni semua dosa-dosa kami.
Sehari-hari kami sanggup membeli maksiat dengan puluhan ribu. Bahkan jutaan rupiah sekalipun. Sehari-hari kami bisa membayar tiket seharga seratus ribu atau lebih hanya untuk sebuah hiburan yang Engkau membencinya. Demi kenyamanan kami, kami biasa membeli barang semahal apapun asal kami mampu. Tapi urusan agama-Mu ya…. Allah, Rp. 5000 yang kami berikan terasa begitu besar. Bahkan tak jarang kami menolaknya. Setiap kali datang amal untuk kepentingan agama-Mu, selalu kami cari uang yang paling kecil. Padahal untuk setiap amal yang diserahkan kepada-Mu Engkau janjikan ganti 700 kali lipat plus kenimatan abadi di alam syurga. Sehari-hari kami lebih percaya menabung ke Bank dari pada menabung kepada Engkau. Ya Allah ampunilah kami, karuniakan kepada kami kedermawanan sebagai mana Engkau karuniakan kepada para nabi-Mu dan para sahabat-sahabat Rasul Mu.. Berilah pada kami kekuatan untuk mengamalkan keyakinan kami bahwa hanya Engkau yang Maha Besar dan selain Engkau adalah kecil.
“Ya Allah, Saat ini perjalanan hidup kami lebih banyak mengalami kejatuhan dan kehilangan fitrah kemanusiaan kami, daripada menemukan fitrah kemanusiaan kami yang suci. Kami lebih banyak tenggelam dalam kehidupan kebinatangan daripada sibuk mengamalkan kebajikan. Kami lebih mempercayai janji-janji manusia dibanding janji limpahan pahala dan karuniaMu. Kami lebih tertarik mengikuti rayuan keinginan kami dari pada mengikuti keinginanMu.
Di tempat sujud ini, kami berharap dan memohon kepada Engkau, kembalikanlah kami ke pada fitrah kemanusiaan kami yang semula, fitrah manusia yang hanya percaya kepada Engkau satu-satunya, Tuhan tempat kami memohon dan kembali, dan fitrah kemanusiaan yang selalu punya semangat untuk berbuat baik sebanyak-banyaknya kepada sebanyak-banyaknya orang ”.
“Ya Allah hingga hari ini iman kami kepada-Mu belum bisa memberikan rasa sejahtera dan aman kepada orang lain. Ya Allah hingga hari ini iman kami belum sepenuhnya memberi kemantapan untuk berlindung hanya kepada Engkau, kami lebih sering berlindung pada uang, berlindung pada jabatan, berlindung pada kiat-kiat nafsu kami. Di tempat sujud ini, kami memohon kepada Engkau, karuniakan kepada kami iman yang menebarkan kebajikan kepada orang lain, karuniakan kepada kami iman yang dapat menaburkan keamanan kepada orang lain, iman yang dapat menebarkan rasa belas kasih, rasa hormat dan toleransi. Ya Allah karuniakan kepada kami iman yang memantapkan pikiran dan perasaan kami untuk berserah diri, berlindung dan memulangkan semua urusan kami hanya kepada Engkau”.
“Ya Allah dalam kehidupan keseharian kami, kami seringkali mentaati atasan kami lebih dari taatnya kami kepada Engkau. Untuk urusan uang kami bisa mengusahakan secara optimal dengan memaksimalkan segenap daya dan tenaga kami, tapi untuk urusan Engkau kami hanya mengusahakan yang minimal yang bisa kami lakukan. Untuk urusan kenaikan pangkat, jabatan dan bisnis, kami optimalkan usaha kami, kami kerahkan segenap dana dan upaya, tapi untuk kepentingan Engkau, lebih sering kami abaikan, bahkan kalaupun kami lakukan, kami hanya melakukan sekedarnya. Ya Allah, Kami memang tidak mengakui uang, jabatan, dan urusan keduniaan itu sebagai Tuhan, tapi uang dan jabatan sering kami perlalukan lebih dari yang kami lakukan kepada Engkau sebagai Tuhan kami. Ya Allah ampuni kemusyrikan kami itu, sungguh kami telah mendlolimi diri kami sendiri, berilah pada kami kekuatan untuk senantiasa mengesakan Engkau dalam setiap perbuatan kami”
“Ya Allah, Tuhan kami satu-satunya, hampir setiap pekerjaan yang kami lakukan setiap hari semata diperuntukkan untuk mengharapkan perhatian, pujian dan senangnya keluarga, teman dan atasan kami, akan tetapi sepi dari mengharap senangnya Engkau kepada kami ya Allah, sepi dari mengharapkan cinta dan kasih sayangMu. Bahkan yang lebih naif dan kejam, kami lebih takut marahnya keluarga dan marahnya atasan kami, daripada marahnya Engkau ya Allah. Kami lebih takut tidak dapat uang dari pada tidak mendapat pahalaMu, kami lebih khawatir tidak disenangi oleh atasanya kami dari pada tidak diridloi Engkau. Ya Allah yang Maha Pengasih, masihkah ada keikhlasan dalam hidup kami. Karuniakan kepada kami kesejatian hati, kemurnian akal sehat, dan keikhlasan nurani dalam menjalankan tugas dan pekerjaan kami sehari-hari, sehingga tak ada lagi yang kami harap dari pekerjaan kami kecuali Ridlo-Mu ya Allah, kecuali belas kasih sayang-Mu wahai Dzat Yang Maha Penyayang, amien ya Rabbal alamien.
”Ya Allah, e bulan ramadlan badan kaulah ampon sahur bersama, puasa bersama, buka bersama, shalat jamaah bersama, tarawih bersama dan tadarrus bersama. Hari inipun kami masih bersama melakukan shalat 'idul fitri. Ya Allah, terus tumbuhkan rasa berjema'ah di hati kami, terus tumbuhkan kebersamaan di hati kami, terus tumbuhkan rasa persaudaraan di hati kami. Sebentar lagi badan kaulah akan saling berpelukan dan bersalam-salaman untuk saling memaafkan, serta saling kunjung mengunjungi untuk mempererat tali silaturrahim di antara kami. Ya Allah, Jangan cerai beraikan hati kami, jangan tumbuhkan kedengkian di hati kami, dan jangan putuskan tali silaturrahim di hati kami. Tumbuhkan dan tebarkan rasa kasih sayang dan keberkatan di antara kami, amien yaa rabbal alamien.
"SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI MOHON MAAF LAHIR BATHIN"
28 Agustus 2011
MUHAMMADIYAH TERBELENGGU WUJUDUL HILAL: METODA LAMA YANG MEMATIKAN TAJDID HISAB
Oleh: T. DjamaluddinProfesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN
Anggota Badan Hisab Rukyat, Kementeria Agama RI
Mengapa perbedaan itu pasti terjadi ketika bulan pada posisi yang sangat rendah, tetapi sudah positif di atas ufuk? Kita ambil kasus penentuan Idul Fitri 1432/2011. Pada saat maghrib 29 Ramadhan 1432/29 Agustus 2011 tinggi bulan di seluruh Indonesia hanya sekitar 2 derajat atau kurang, tetapi sudah positif. Perlu diketahui, kemampuan hisab sudah dimiliki semua ormas Islam secara merata, termasuk NU dan Persis, sehingga data hisab seperti itu sudah diketahui umum. Dengan perangkat astronomi yang mudah didapat, siapa pun kini bisa menghisabnya. Dengan posisi bulan seperti itu, Muhammadiyah sejak awal sudah mengumumkan Idul Fitri jatuh pada 30 Agustus 2011 karena bulan (“hilal”) sudah wujud di atas ufuk saat maghrib 29 Agustus 2011. Tetapi Ormas lain yang mengamalkan hisab juga, yaitu Persis (Persatuan Islam), mengumumkan Idul Fitri jatuh pada 31 Agustus 2011 karena mendasarkan pada kriteria imkan rukyat (kemungkinan untuk rukyat) yang pada saat maghrib 29 Agustus 2011 bulan masih terlalu rendah untuk bisa memunculkan hilal yang teramati. NU yang mendasarkan pada rukyat masih menunggu hasil rukyat. Tetapi, dalam beberapa kejadian sebelumnya seperti 1427/2006 dan 1428/2007, laporan kesaksian hilal pada saat bulan sangat rendah sering kali ditolak karena tidak mungkin ada rukyat dan seringkali pengamat ternyata keliru menunjukkan arah hilal.
Jadi, selama Muhammadiyah masih bersikukuh dengan kriteria wujudul hilalnya, kita selalu dihantui adanya perbedaan hari raya dan awal Ramadhan. Seperti apa sesungguhnya hisab wujudul hilal itu? Banyak kalangan di intern Muhammadiyah mengagungkannya, seolah itu sebagai simbol keunggulan hisab mereka yang mereka yakini, terutama ketika dibandingkan dengan metode rukyat. Tentu saja mereka anggota fanatik Muhammadiyah, tetapi sesungguhnya tidak faham ilmu hisab. Oktober 2003 saya diundang Muhammadiyah sebagai narasumber pada Munas Tarjih ke-26 di Padang. Saya diminta memaparkan “Kritik terhadap Teori Wujudul Hilal dan Mathla’ Wilayatul Hukmi”. Saya katakan wujudul hilal hanya ada dalam teori, tidak mungkin bisa teramati. Pada kesempatan lain saya sering mangatakan teori/kriteria wujudul hilal tidak punya landasan kuat dari segi syar’i dan astronomisnya. Dari segi syar’i, tafsir yang merujuk pada QS Yasin 39-40 terkesan dipaksakan. Dari segi astronomi, kriteria wujudul hilal adalah kriteria usang yang sudah lama ditinggalkan di kalangan ahli falak.
Kita ketahui, metode penentuan kalender yang paling kuno adalah hisab urfi (yang kini digunakan oleh beberapa kelompok kecil di Sumatera Barat dan Jawa Timur, yang hasilnya beda dengan metode hisab atau rukyat). Lalu berkembang hisab imkan rukyat, tetapi masih menggunakan hisab taqribi (pendekatan) yang akurasinya masih rendah. Muhammadiyah pun sempat menggunakannya pada awal sejarahnya. Kemudian untuk menghindari kerumitan imkan rukyat, digunakan hisab ijtimak qablal ghurub (konjungsi sebelum matahari terbenam) dan hisab wujudul hilal (hilal wujud di atas ufuk yang ditandai bulan terbenam lebih lambat daripada matahari). Kini kriteria wujudul hilal mulai ditinggalkan, kecuali oleh beberapa kelompok atau negara yang masih kekurangan ahli hisabnya, seperti oleh Arab Saudi untuk kalender Ummul Quro-nya. Kini para pembuat kalender cenderung menggunakan kriteria imkan rukyat karena bisa dibandingkan dengan hasil rukyat. Perhitungan imkan rukyat sudah sangat mudah dilakukan, terbantu dengan perkembangan perangkat lunak astronomi. Informasi imkanrur rukyat atau visibilitas hilal juga sangat mudah diakses secara online di internet.
Muhammdiyah yang tampaknya terlalu ketat menjauhi rukyat terjebak pada kejumudan (kebekuan pemikiran) dalam ilmu falak atau astronomi terkait penentuan sistem kelendernya. Mereka cukup puas dengan wujudul hilal, kriteria lama yang secara astronomi dapat dianggap usang. Mereka mematikan tajdid (pembaharuan) yang sebenarnya menjadi nama lembaga think tank mereka, Majelis Tarjih dan Tajdid. Sayang sekali. Sementara ormas Islam lain terus berubah. NU yang pada awalnya cenderung melarang rukyat dengan alat, termasuk kacamata, kini sudah melengkapi diri dengan perangkat lunak astronomi dan teleskop canggih. Mungkin jumlah ahli hisab di NU jauh lebih banyak daripada di Muhammadiyah, walau mereka pengamat rukyat. Sementara Persis (Persatuan Islam), ormas “kecil” yang sangat aktif dengan Dewan Hisab Rukyat-nya berani beberapa kali mengubah kriteria hisabnya. Padahal, Persis kadang mengidentikan sebagai “saudara kembar” Muhammadiyah karena memang mengandalkan hisab, tanpa menunggu hasil rukyat. Persis beberapa kali mengubah kriterianya, dari ijtimak qablal ghrub, imkan rukyat 2 derajat, wujudul hilal di seluruh wilayah Indonesia, sampai imkan rukyat astronomis yang diterapkan. Lalu mau kemana Muhammadiyah? Kita berharap Muhammadiyah, sebagai ormas besar yang modern, mau berubah demi penyatuan Ummat. Semoga!
24 Agustus 2011
ZISWAH SOLUSI UNTUK MASYARAKAT MISKIN
Diperkirakan potensi zakat tahun ini mencapai Rp.217 Trilium. Islamic Development Bank (IDB) menyatakan jumlah tersebut berasal dari rumah tangga sebesar Rp. 117 trilium dan perusahaan milik muslim sebesar Rp. 100 triliun. Angka ini naik dari proyeksi tahun 2010 yang hanya sebesar Rp. 100 triliun (Antara,19-8-2011). Ini baru dari sector zakat, belum lagi dari wakaf. Diperkirakan luas tanah wakaf di Indonesia mencapai 1,5 milyar meter persegi atau 150 ribu hektar. Angka ini belum ditambah dengan tanah wakaf yang belum didata. Dari seluruh tanah tersebut, sepuluh persen memiliki potensi ekonomi tinggi, sisanya untuk bangunan masjid, pesantren, makam, rumah yatim piatu dan madrasah. Potensi ini sungguh luar biasa andaikata dikelola dan dimanfaatkan dengan cara yang lebih rasional dan proporsional. Namun sayangnya, potensi ini belum digunakan semaksimal mungkin untuk menanggulangi masalah umat, khususnya pengentasan kemiskinan, pendidikan, pemberdayaan ekonomi lemah dan kesehatan. Selama ini, kita lihat, pemanfaatan ziswah, baru sebatas pada fungsi pemberian langsung dalam bentuk uang dan makanan kepada yang berhak. Sedangkan wakaf baru pada penggunaan bangunan masjid dan madrasah. Ini bisa dipahami, karena hal tersebut berdasar pada pemahaman agama secara skriptualis.
Cara-cara yang selama ini dilakukan, memang tidak salah, mengingat masih banyak warga negeri ini yang membutuhkan bantuan langsung dan segera. Sebab, jika mengacu pada patokan Bank Dunia, bahwa yang masuk katagori miskin adalah dengan pendapatan 2 dolar perhari, maka tahun ini diperkirakan terdapat 100 juta penduduk Indonesia masuk katagori miskin. Dan mereka berhak menerima bantuan dana zakat tersebut. Namun cara seperti ini harus dibarengi dengan upaya pemberdayaan yang lebih rasional, proporsional dan sistimatis menuju pengentasan kemiskinan yang lebih permanen. Artinya, dengan sebagian dana ziswah, mereka perlu diberdayakan agar supaya tidak terus menerus menjadi penerima zakat tetapi berubah menjadi pemberi zakat. Karena itu, perlu diagendakan pemberdayaan ziswah secara produktif, agar menjadi kesadaran kolektif umat Islam. Maksudnya, bahwa potensi ziswah tersebut perlu digerakkan bersama menjadi sektor ekonomi umat yang lebih produktif dan berkeadilan. Namun nyatanya pengelolaan ziswah yang produktif belum berlangsung sesuai harapan. Selama ini kendala yang cukup mendasar dirasakan dalam masyarakat bagi pemberdayaan ziswah produktif adalah, pertama, seperti disebutkan diatas, ada pemahaman yang belum utuh dalam masyarakat tentang ajaran pemberian ziswah itu sendiri. Selama ini dipahami lebih kepada aspek pemberian langsung kepada yang berhak, seperti fakir miskin, amil, orang yang berhutang (gharim), ibnu sabil, sabilillah, dan budak. Memang, prinsip ini tidak salah. Tetapi jika kita kaji lebih dalam maksud mendasar dari kewajiban membayar ziswah, terutama zakat, maka akan menemukan pentingnya semangat solidaritas pemberdayaan produktif umat secara lebih luas.
Kedua, terkait dengan manajemen pengelolaan ziswah masih bersifat parsial dan belum professional. Hal ini sangat berhubungan dengan kendala ketiga, yakni kurangnya sumber daya manusia yang mampu mengelola. Meski, ada sebagian organisasi ziswah yang dikelola secara professional seperti Yayasan Dakaf Al-Falah, Dompet Dhuafa Republika (DDR), namun hampir sebagian besar yang lain masih berasal dari kalangan masyarakat, seperti kiai atau ustad dan lain-lain yang sebenarnya tidak memiliki kompetensi dalam mengelola ziswah secara produktif. Misalnya,dilihat dari kompetensi dalam aspek visi ke depan, inistif dalam menjalin kerja sama yang produktif dengan pihak lain dan seterusnya. Persoalannya sekarang adalah bagaimana cara agar ziswah itu bisa menjadi dana revolving dan produktif, yang mampu mengentaskan penduduk miskin sebanyak-banyaknya? Hemat penulis, dana yang begitu besar itu, jangan melulu dihabiskan secara langsung. Bisa saja dua pertiga dari dana tersebut digerakkan untuk pemberdayaan masyarakat melalui sektor ekonomi riel. Seperti membuat program-program pendampingan masyarakat. Misalnya, membentuk kelompok peternak kambing, sapi di suatu desa. Kelompok budi daya pertanian. Pendirian lembaga dana masyarakat, semisal Baitul Maal Wattamwil (BMT). Koperasi dan lainnya. Dengan pendampingan ini, tentu tidak saja, mereka bisa diberdayaan dari aspek ekonominya,yaitu bagaimana memelihara dan merawat ternak dan pertanian tersebut, tetapi juga bisa dari aspek agama, social, politik. Semisal, melatih kemandirian, mengembangkan nilai kejujuran, kerja keras dan tanggung jawab. Dengan demikian, program pendampingan ini tidak saja untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi, tetapi juga menciptakan kesalehan mereka, kesadaran mereka agar tidak selalu tergantung sehingga timbul rasa kepedulian mereka untuk membantu saudara lain yang masih dalam kondisi miskin. Selain itu, perlu pula ada gerakan perubahan pola pikir di kalangan umat khususnya pengelola ziswah, dalam rangka mendukung upaya diatas, yakni penerapan konsep kewirausahaan sosial dalam pengembangan dana tersebut. Belakangan konsep ini sudah banyak dikembangkan. Meski konsep ini banyak mengadopsi kewirausahaan bisnis, tetapi keduanya berbeda dalam orientasi. Meski keduanya sama-sama menerapkan prinsip bisnis dalam menjalankan usahanya, seperti prinsip efektif efisien, agresif dalam bergerak serta ambisi dalam usaha, namun ada perbedaan yang mendasar. Pada kewirausahaan social, usaha tidak semata hanya memperoleh keuntungan materi, uang, tetapi yang utama adalah misi social. Ini yang paling penting. Prinsip kewirausahaan social menerapkan usaha bisnis dengan orientasi pengabdian social dan kemaslahatan sebanyak mungkin umat, dilandasi kesabaran dalam menjalankan wirausaha, dan hasil akhir yang diharap bukan pada sebesarapa besar keuntungan materi atau uang namun yang mendasar adalah seberapa banyak masyarakat bias mengeyam manfaat dari wirausaha tersebut demi perbaikan kualitas hidup mereka. Karena itu, sudah saatnya semua komponen bangsa untuk mendorong pengelola ziswah, yang mengemban anamah dan kepercayaan dari masyarakat, memaksimalkan asset ziswah menjadi lebih produktif sehingga manfaatnya dirasakan lebih luas, kontinius, dan abadi. Dengan upaya ini ziswah bisa berperan menjadi solusi untuk mengentas masyarakat papa secara keseluruhan dan permanen. Amien. Wallahu a’lam bisshawab.
PUASA ITU DAMAI
Salah satu fungsi Ramadhan, mendidik shoimin bisa mencapai keshalehan social, selain tentu shaleh secara individu. Karena itu, ramadhan sering disebut sebagai syahr al-Musawah, bulan solidaritas.
Namun sayangnya, setiap bulan ramadhan masih saja kita jumpai tindak kekerasan, sikap pemaksaan terhadap orang lain untuk menghormati orang yang sedang berpuasa. Masih kita lihat saudara sesama muslim hidup menderita kelaparan dan papa.
Benar, apa yang mereka lakukan punya dalih ‘dalam rangka menghormati sucinya bulan ramadhan’. Tetapi, secara hakiki, sikap kekerasan, pemaksaan, ‘kenyang sendiri’, ‘enak sendiri’ justru mereduksi makna puasa.
Sejatinya, hidup dan ibadah kita ini-kan sebenarnya hanya mencari ridhoNya. Bukankah kita sudah berikrar dalam dua puluh empat jam full bahwa hidup, sholat dan ibadah lainnya hanya untuk Allah Swt. Jadi bukan memaksa orang lain untuk menghormati ibadah kita. Bukan pula masa bodoh dengan penderitaan dan kemiskinan sesama.
Disisi lain, al-imsak juga bermakna tidak boleh ber-su’uddhon-ria, berprasangka buruk, berpikir negative terhadap orang lain. Warung nasi, tempat hiburan buka disiang hari, mereka kan berusaha mencari rejeki, orang-orang makan minum di terminal, mungkin mereka musyafir, tak luput dari tuduhan negative ini. Tukang warung, pemilik hiburan dituduh memberi ‘fasilitas’ bagi orang untuk tidak berpuasa.
Padahal, belum tentu orang masuk warung nasi dan tempat hiburan tersebut, identik dengan ‘setan’. Bukankah al-qur’an memberi pengeculian bagi musyafir, orang sakit, tua jompo, hamil menyusui, untuk tidak puasa, bahkan haram bagi perempuan yang haid dan nifas.
Bukankah kualitas iman yang baik adalah iman yang banyak godaan, bukan iman yang sepi ujian. Semakin kuat cobaan, dan kita lolos, makin berkualitas iman kita. Nah, bukti seberapa tebal keimanan kita, tercermin dari sikap toleran kepada sesama yang tidak berpuasa.
Sikap mudah menghakimi orang lain sesat, pembuat dosa, dan mereka harus diberantas tentu perlu dikaji ulang. Sebab hal itu sangat bertolak belakang dengan al-Qur’an dan al-Hadist.
Islam menyatakan tidak ada paksaan dalam beragama, apalagi mempertanyakan kualitas iman seseorang. Islam bebas memilih, mau memeluk agama secara kaffah atau separuh-separuh ala kadarnya. Misalanya, islam hanya KTP, takut dicap tidak beragama, terserah. Namun, yang perlu diingat, bahwa semua apa yang kita perbuat akan dimintai pertanggungan jawab nanti.
Harus disadari, Islam mengajarkan bahwa dalam mengajak berbuat kebajikan dan mencegah kemungkaran (berdakwah) hendaknya dilakukan dengan cara yang baik, tanpa kekerasan. Nabi dan Rasul pun diutus Tuhan hanya sekedar untuk menyampaikan ajaran Tuhan kepada umatnya. Jika ada yang ikut, ya syukurlah, jika pun menentang, itu sudah bukan urusan Nabi dan Rasul, tetapi urusan Tuhan.
Jika Nabi dan Rasul sudah mencontohkan demikian, mengapa banyak umat Islam kini tidak bisa toleran terhadap sesama orang Islam? Al-qur’an mengajarkan bahwa sesama Islam adalah bersaudara, harus rukun dan damai. Nah, jika terhadap orang Islam sendiri begitu, apalagi kepada umat non muslim. Persoalannya adalah dimanakah misi Islam yang damai dan rahmatan lil alamin itu?
Sebenarnya dengan momentum puasa, sebagian orang Islam yang selama ini bersikap keras terhadap orang lain bisa menjadi lebih toleran, sabar dan damai. Tidak cepat-cepat menggunakan kekerasan fisik dalam bertindak.
Kita harus berpikir, bahwa Allah-lah yang menciptakan manusia dengan sebagian ada yang beriman dan sebagain yang tidak. Dan Allah melarang kita bahwa diri kita merasa paling bersih (baik), sebab sesungguhnya hanya Allah-lah yang maha tahu siapa hambanya yang paling taqwa. Wallahu aklam bissawab.
(tulisan ini pernah dimuat Radar Madura, edisi 18 Agustus 2011)
MENSYUKURI SUKSES KECIL
Dikirim oleh: Raziq Hasan
Bahkan berdasarkan unit kegiatan, mungkin dalam hitungan jam atau menit. Inilah yang dimaksud dengan sukses-sukses kecil. Dan jangan remehkan sukses-sukses kecil. Tidak akan pernah ada sukses besar tanpa melalui sukses kecil.
Mari kita renungkan contoh berikut: Jika kita akan menghadiri suatu pertemuan, maka tujuan utama kita sewaktu berangkat dari rumah adalah “sampai di tempat tujuan tepat waktu, dan dalam keadaan selamat”. Tujuan utama kecil ini sering kita dilupakan. Akibatnya, sewaktu tujuan tercapai (dalam contoh kita telah sampai ditempat pertemuan tepat waktu dan dalam keadaan selamat) kita seringkali tidak menghargainya sebagai suatu kesuksesan. Padahal itupun adalah sukses yang harus dihargai dan disyukuri. Selayaknya, begitu sampai ditempat pertemuan, kita bergembira dengan sukses kecil itu dan syukuri. Siapa yang pandai bersyukur, Allah akan menambah nikmatnya. (QS Ibrahim; 14 : 07).
Sukses-sukses kecil ini terjadi hampir setiap saat. Tetapi kita sering meremehkannya dan lupa bersyukur. Sehingga rasa sukses tidak tumbuh dalam kesadaran kita. Ini akan berpengaruh tidak baik terhadap pencapaian sukses besar kita.
Disisi lain yang perlu juga kita perhatikan dari contoh tadi. Pada saat kita sampai di tempat pertemuan, tepat waktu dan selamat. Kita perlu lagi bertanya apakah betul kita telah sukses? Bila dikaitkan dengan pencapaian tujuan utama. Jawabnya pasti ya. Namun bila dikaitkan dengan pengertian sukses secara lengkap, perlu dilihat lagi, apakah dalam mencapai kecil tadi kita tidak mengganggu hak orang lain? Misalnya karena kita tidak mau terlambat, kita menyerobot lampu merah atau mengambil jalan orang lain. Bila dalam mencapai tujuan utama dengan mengganggu hak orang lain. Maka kita belum sukses. Kita baru mencapai tujuan, tetapi dengan melakukan (maaf) kezholiman. (QS Ibrahim; 14 : 42)
Andaikan dalam perjalanan kita memang tidak ada mengganggu hak orang lain, bahkan kita menghormatinya, maka itulah sukses. Namun itupun masih merupakan sukses kelas rendah. Kenapa? Karena ada satu hal lagi yang perlu ditanyakan. Apakah sepanjang perjalanan itu kita ada berbuat baik kepada orang lain? Misalnya bersedekah kepada pengemis yang dijumpai. Atau tersenyum kepada pejalan kaki yang kita dahulukan. Maka bersyukurlah. Karena dalam waktu 20, atau 30, atau mungkin 60 menit yang kita pergunakan untuk mencapai tujuan utama kecil, kita telah mencapainya tanpa mengganggu hak orang lain, malah sudah berbuat baik kepada orang lain. Inilah sukses. Sekalipun dalam skala kecil.
Sampai disini, mari kita berhenti sejenak. Duduklah dengan tenang, ambil nafas yang dalam. Kemudian kita renungkan contoh-contoh lain dalam keseharian kita. Kita yakin sangat banyak sukses-sukses kecil yang telah kita raih dalam kehidupan kita, yang terlupakan, dan tidak disyukuri.Akumulasi sukses-sukses kecil tersebut akan memberi dampak sangat positif dalam usaha kita mencapai sukses yang lebih besar. Rasa sukses akan bertumbuh kembang dalam kesadaran kita. Rasa percaya diri akan meningkat. Dan yang tak kalah pentingnya, kita telah mengumpulkan tiga kebaikan (bersusah payah mencapai tujuan, tidak berbuat kezholiman, dan berbuat kebaikan) dalam satu kegiatan. Dan betapapun kecilnya kebaikan itu, Tuhan mengetahui, mencatat, dan akan memberikan imbalan. (QS Al-zalzalah; 99 : 07).
Dampak positif lain yang akan kita peroleh dalam sukses kecil tersebut adalah kita akan menjadi terbiasa dengan kesuksesan. Perasaan sukses akan terekam dalam alam bawah sadar kita. Dan pada waktunya akan mempengaruhi kita secara positif. Karena sukses sudah menjadi kebiasaan bagi kita. Sukses sudah menjadi bagian integral dari kepribadian kita. Artinya kita adalah pribadi yang terbiasa sukses.
Dan karena sukses sudah menjadi kebiasaan bagi kita, maka insyaAllah tidak ada kesulitan dalam mencapai sukses-sukses lainnya yang lebih besar.
Jangan remehkan sukses-sukses kecil. Bahkan kita bisa berkata: raihlah sukses besar dengan melakukan sukses-sukses kecil setiap hari, setiap saat. Bagaikan membangun rumah gedung bertingkat, dengan menyusun bata-bata kecil. Bagaikan membuat sehelai sarung dengan menenun benang satu persatu.
Kini, mari kita tentukan sukses-sukses kecil apa yang akan kita capai setiap hari. Niatkan untuk mencapainya, dan terus berusaha untuk mencapainya. Selamat membangun kebiasaan sukses. Dan selamat menjadi pribadi yang sukses.
Sumber: buya nur
23 Agustus 2011
BEREBUT ZAKAT
Orang luar Prenduan pernah bertanya pada seorang tokoh Prenduan. "Tanah di utara Prenduan tanah tidak produktif sedang lautnya tidak lagi menjadi mata pencaharian utama masyarakat Prenduan, tapi mengapa keadaan ekonomi masyarakat Prenduan cukup mapan, hal ini terlihat dari tidak adanya rumah gedek dari sekian banyak rumah yang berimpitan di Prenduan.Benar ! Sewaktu saya masih kecil, para bos pedagang tembakau setiap tahun di akhir bulan Ramadhan seperti sekarang ini, mereka mengumpulkan orang fakir miskin Prenduan di rumahnya untuk diberi zakat, persis seperti yang sering diberitakan di TV akhir-akhir ini. Saya kadang ketawa sendiri melihat berita rebutan zakat di TV, karena saya di waktu kecil sering merasakan bagaimana sengsaranya berebut zakat seperti itu, hemm.
Para tokoh ulama Prenduan waktu itu terkesan merestui sehingga membiarkan para muzakki berzakat model begitu. Alasannya sama dengan alasan menjemput jama'ah haji pakai mobil rame-rame, yaitu untuk syiar Islam.
Ketika tokoh muda mulai berperan, mereka berusaha mengubah model zakat seperti itu dengan cara mendirikan BAZIS (Badan Amil Zakat Shadaqah dan Infaq). Tapi apa yang terjadi ? Para muzakki merasa kurang sreg jika zakat mereka dikelola BAZIS, sehingga akhirnya BAZIS itu tidak jalan. Apa BAZIS Masjid Gemma sekarang jalan ? Hanya taretan Prenduan yang tahu jawabannya.
Zakat kalau dikelola dengan benar memiliki potensi yang cukup besar untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat Prenduan. Karena itu sayang sekali kalau potensi zakat tidak atau kurang diberdayakan.
Mentri Pertanian RI yang pertama pernah bertanya kepada sekjennya.
Mentri : "Kalau kamu punya uang Rp 1000,00 kemudian kamu sedekahkan Rp 100,00 berapa sisa uangmu?"
Sekjen : "Ya tersisa Rp 900,00!".
Mentri : "Salah ! Yang benar uangmu tinggal Rp 100,00!"
Sekjen : "Lho kok bisa ?"
Mentri : "Uang yang Rp 900,00 yang ada di kantongmu itu akan jadi sampah kalau dibelikan barang dan akan jadi kotoran kalau dibelikan makanan. Tapi uang kamu yang Rp 100,00 yang kamu sedekahkan dengan ikhlas itu akan tetap menjadi milik kamu sampai kamu mati dan hidup kembali nanti !!"
Jadi harta sebenarnya yang kita miliki adalah harta yang kita sedekahkan atau kita zakatkan dengan ikhlas, sedangkan harta yang mejeng di rumah akan ditinggalkan dan bukan lagi milik kita saat kita meninggal dunia.
Zakat itu kotoran, karena itu orang yang senang menerima zakat berarti dia senang menerima kotoran. Dan orang tidak mau berzakat berarti ia senang memelihara kotoran pada hartanya.
Ngireng taretan prenduan se mampu azakat, ngireng ja'man-eman kaangguy aberse'en harta badan panjenengan melalui zakat, sabab zakat se epakalowar menangka bakal daddi kaagungnah panjenengan dhibi'.
MEMPERTANYAKAN KESOLEHAN SOSIAL KITA
Oleh : Mohammad Rusli Djamik *Semasa hidup, almarhum Nurcholis Madjid (Cak Nur) pernah mengungkapkan keprihatinannya tentang tidak berimbasnya ajaran agama bagi perbaikan kehidupan sosial umat.
Dikatakan bahwa "Islam adalah agama kemanusiaan terbuka ... maka umat Islam harus kembali percaya sepenuhnya pada kemanusiaan. Jangan dikira Tuhan tidak marah, melihat kemiskinan, ketertindasan, ketidak- adilan, penderitaan terjadi di sekitar kita".
Membaca tulisan itu, saya sejenak merenung, bagaimana mungkin Cak Nur yang tokoh agama, cukup berani, berkata bahwa kita harus "percaya pada kemanusiaan". Mengapa ? Tak lazim di kalangan agama bicara seperti itu. Beliau tegaskan, bahwa iman kepada Allah yang tidak disertai sikap positif terhadap manusia belum beriman dalam arti yang sebenarnya. Lantas muncul pertanyaan, apa kaitannya Tuhan dengan kemiskinan dan ketidakadilan ? Bagaimana Tuhan bisa marah melihat prilaku kita membiarkan penderitaan busung lapar, gizi buruk terjadi ?.
Agama Humanis
Dalam perspektif ilmu sosial, pikiran Cak Nur, nyaris mirip gagasan sosiologis humanitis-nya Peter L. Berger. Sosiologi yang biasanya identik dengan data empirik, serius, kaku, ditangan Berger, menjelma jadi sosiologi yang lebih manusiawi, sosiologi senyum. Misalnya, cara beragama selalu menampilkan wajah senyum, santun dan damai, bukan sebaliknya.Cak Nur tergolong penganut kaum humanis, yang memandang agama selalu menekankan dimensi kemanusiaan atau antroposentrik. Jadi beragama sangat terkait erat dengan kepedulian kita kepada lingkungan sekitar.
Membaca tulisan Cak Nur, secara sadar sedang prihatin melihat jauhnya etos keagamaan , sehingga masyarakat kita kurang peduli terhadap krisis kemanusiaan, seperti kelaparan, pengangguran dan kemiskinan.Secara mendasar, konsep agama humanis, merujuk dalam Al-Qur'an dengan kata-kata : wahai orang-orang yang beriman selalu dibarengi dengan beramal saleh. Ini bukti saat seseorang menyatakan dirinya beriman, ia juga harus beramal saleh, selalu peduli dengan kondisi sekitarnya.Dalam pandangan agama humanis, bersikap solider dengan saudara-saudara kita yang lemah dan miskin, tanpa membeda-bedakan, berarti itu realisasi dari agama. Prikemanusiaan itu menolak ketidakadilan. Sikap manusiawi berarti fairness dan cinta pada keadilan.Gagasan Cak Nur ini 'diamieni' oleh rohaniawan Kresten Franz Magnis Suseno. Menurut agamawan asal Jerman ini, prikemanusiaan tidak berarti mengeser Tuhan dengan manusia. Sama sekali tidak. Justru karena kita memuja Tuhan sebagai nilai dan norma tertinggi, kita bersikap humanis. Artinya kita menghormati manusia sebagai ciptaan-Nya.
Muncul pertanyaan, betulkah timbulnya krisis sosial ekonomi, yang mengantarkan rakyat menjadi busung lapar, menderita sakit jiwa, pedihnya kehidupan hingga mendorong hilangnya harapan dan akhirnya seperti yang sering kita dengar seorang ibu atau seorang anak yang tidak tahan, akhirnya nekat bunuh diri, ada hubungan dengan kadar keberagamaan masyarakat ?. Atau, hal itu dikarenakan kita tidak mampu melakukan transfor- masi nilai-nilai ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari ?. Saya yakin, sebagian besar umat Islam tidak terima mendengar ucapan-ucapan terkait dengan rendah nya pengejawantahan moralitas agamanya.
Sayang, realitas kehidupan sehari-hari, kita jumpai banyak terbukti. Terlepas dari faktor-faktor lain yang melingkupi timbulnya krisis sosial, pikiran kaum agamawan humanis, secara kritis banyak benarnya. Lihat saja, warga makan nasi 'aking', bayi perut buncit karena kurang gizi, kemiskinan, kebodohan penderitaan tak tahu kapan berakhir, akibat krisis ekonomi dan sosial. Sementara, ironisnya, saudara seiman bergelimang harta lebih. Syiar agama semakin marak, para elite, artis-artis, hartawan banyak pergi umroh. Tidak itu saja, acara kumpulan massal, semacam 'Indonesia berdzikir', istighosoh, pengajian majlis taklim menjamur dan meriah. Itulah gambaran citra kesalehan masyarakat kita.
Namun, timbul pertanyaan yang mengganggu : mengapa kesalehan tidak berkaitan erat dengan keharmonisan sosial, ketentraman dan bahkan yang lebih substansif, seperti menurunnya tindak kriminal, korupsi, atau terciptanya keadilan sosial ? Islamkah kita bila dalam kehidupan sehari-hari, kita rajin sholat, puasa, sementara membiarkan tetangga sebelah tak bisa tidur karena kelaparan ? Islamkah kita bila dalam berekonomi usaha kita makin membesar karena yang lebih kecil kita tindas ? Islam kah kita bila dalam bekerja di kantor dengan jabatan empuk karena hasil dari sikut kiri kanan teman dan menjilat atasan ? Islamkah kita bila ongkos pergi haji, makan buka puasa didapat dari hasil korupsi ? Ungkapan kalimat sebagaimana dikutip diawal tulisan, dalam batas tertentu banyak benarnya.
Sebuah masyarakat relegius dan bertuhan mestinya lebih bisa mewujudkan nilai moralitas agamanya dalam hidupnya, dan bukan sebaliknya. Menyikapi kenyataan itu, kita sebaiknya bersikap terbuka sembari melakukan renungan, berfikir untuk menemukan jawaban. Berbagai bentuk krisis soial, seperti kemiskinan, kebodohan, ketidakadilan, kriminalitas, korupsi hingga busung lapar yang tersebar di tanah air, menjadi bukti paling sahih betapa masyarakat belum sepenuhnya mampu mengejawantahkan nilai moralitas agama sebagai suatu kewajiban agama. Ironisnya, segala bentuk krisis sosial ekonomi itu, justru terjadi di negeri yang mengaku bertuhan dan mayoritas relegius.
Iktibar
Dalam konteks ini, keprihatinan Cak Nur tentang tidak berimbasnya ajaran agama dalam perbaikan kehidupan sosial menjadi beralasan. Maka, kita layak melakukan introspeksi diri : kira-kira sumba ngan apa yang dapat diberikan, sistem ritus atau ibadah kita bagi perbaikan krisis sosial ekonomi ? Adakah ibadah sholat, puasa, zakat dan haji, misalnya, secara mendasar terbukti memberi sumbangan besar bagi perbaikan kualitas hidup sosial umat ? Nyatanya, kita sering lupa, melalaikan kewajiban-kewajiban agama, yang sebenarnya sangat pokok, menjadi tolok ukur keimanan kita. Misalnya, kita berlomba naik haji sampai berkali-kali, tanpa melihat bagaimana tetangga sebelah kita masih butuh uluran bantuan kita. Ibadah haji sifatnya sangat individu, tidak bisa menyentuh kepentingan orang banyak. Dalam buku "Warisan Auliya" Fariduddin al-Attar menulis bahwa seorang sufi, Abdullah bin Mubarak dalam tidurnya mendengar dua malaikat berdialog tentang jemaah haji yang baru saja menunaikan ibadah haji di Tanah Suci. Abdullah terperanjat, ia bangun dari tidurnya dengan tubuh gemetar, karena diantara 600.000 orang yang naik haji tak satupun ibadahnya diterima oleh Tuhan. Padahal Abdullah termasuk didalamnya. Meskipun begitu menurut malaikat, ada tukang sepatu di Damaskus yang tinggal dirumahnya tetapi hajinya diterima. Abdullah penasaran, lalu diam-diam menyelidik ke Damaskus, tukang sepatu itu ternyata Ali bin Muwaffak, orang biasa tapi telah tiga puluh tahun menabung untuk naik haji. Ketika tiba naik haji, ia menemukan tetangganya yang hidup kelaparan, nelongso. Keluarga itu menderita serius, tiga hari tidak makan. Ali kaget, kemudian menyerahkan uang simpanannya selama tiga puluh tahun kepada keluarga itu.Bercermin pada cerita diatas, alangkah indah seandainya setiap musim haji mereka yang sudah naik haji tidak perlu berhaji lagi, tetapi uangnya digunakan untuk mensejahterakan umat. Inilah logika Ali bin Muwaffak seorang yang tidak jadi haji tetapi hajinya diterima. Naik haji bagi sementara orang adalah sesuatu yang mewah. Tapi apakah kita akan bermewah-mewah sementara di sekitar kita, saudara-saudara kita untuk sekedar makan saja 'senin kamis' ? Menggarisbawahi itu semua, sudah saatnya membe ri bukti nyata kepada umat bahwa keberagamaan kita bukan faktor yang terpisah dengan terpuruk nya kondisi sosial ekonomi. Sebagai akhir, saya kutipkan perbincangan Nabi Musa dengan Nabi Khaidir. Apa amalan yang langsung diterima oleh Allah swt. Kata Khaidir :" Pembebasan manusia dari kezaliman, memberi pakaian mereka yang telanjang, memberi makan mereka yang kelaparan, bukan ritual ibadah yang pada dasarnya adalah kewajiban manusia". Semoga….(Tulisan ini, pernah dumuat Radar Madura, edisi 7 Juli 2011)
21 Agustus 2011
BIOGRAFI SYEKH SYARQOWI BIN SHODIQ ROMO ALQUDUSI
Sumber penulisan Nadzom ini dari ayahanda alm. KH. Moh. Amir Ilyas, KH. Warits Ilyas dan KH. Tsabit Khozin dalam bentuk wawancara / tanya jawab
المقـدّمة
الحَـمْدُ لِلَّهِ اَّلـذِى يُـوَافِـــــى
نِـَعمَـهُ كَـثِــــــيْرَةً يـُكـَافِـى
Segala puji bagi Allah Yang memenuhi nikmat-nikmat-Nya
dengan sempurna
صَلَّى وَسَلَّمَ عَلَى طَهَ اْلأَمِــينْ وَأَلِهِ وَصَحْـبِهِ وَالـتَّـابِـعِــينْ
Semoga Rahmat dan kesejahteraan terlimpahkan kepada
Nabi Muhammad yang amanah, keluarganya, sahabatnya
dan para pengikutnya.
وَبَعْدُذِى مَنْـظُوْمَةٌ عَقَـدْنَـا فِى سِيْرَةٍ قَـصِيْرَة ٍعَنْ جَدِّّنَا
Selanjutnya, Nadloman ini saya rangkai (membahasa tentang)
riwayat singkat kakek saya (KH. Moh. Ilyas bin Syarqowi)
أَبْـدَأُ بِِـاْلكِـتَـابَةِ اْلمَنْظُـوْمَــةْ اِشْتَمَلَتْ سِلْسِلَةً عَظِيْـمَةْ
Saya memulai tulisan nadloman ini, di mana di dalamnya memuat pembahasan tentang silsilah yang agung
فَكُـنْتُ كَاتِبًـا لِـقَصْدِاْلعِلْـِم شَجَـرَةَ اْلحَـيَــاةِ لاِحْــــتِرَامِ
Saya tulis nadloman ini dengan maksud ingin mengetahui sejarah kehidupan kakek yang saya hormati
عَسَى تَكُـوْنُ هَذِهِ اْلمَنْـظُـوْمَـةْ وَسِــيْلَـةً ِلأَنْ أَنَـالَ الـنِّـعْمـَــةْ
Semoga nadloman ini menjadi perantara saya meraih kenikmatan
وَلَمْ أَكـُنْ مُفَـاخِرًا بِجَــدِّى لَكِنْ بِحُسْنِ خَلْقِهِ سَأَقْـتَدِى
Dan saya tidak bermaksud mengagung-agungkan kakek saya,
tetapi saya bermaksud meniru budi pekerti baiknya.
فَأَقْـتَـدِى خُطْـوَاتـِهِ اْلكـَرِيْمَـةْ وَلَيْسَ لِى أَنَـانِـيُ اْلـعَسِيْـفَـةْ
Dan saya akan mengikuti langkah-langkahnya beliau yang mulia dan bukan egoisme serampangan
فـَإِنـَّـهُ اْلـعَـــالِمُ اِلْـعَـــــــــلاَّ مَـــةْ كَـثِــيْرُ اِطْـــلاَعٍ كَـذَا قِــرَاءَةْ
Sesungguhnya KH. Moh. Ilyas adalah orang yang alim dan
sangat alim serta banyak menela’ah dan membaca
فِى هَـذَا اْلأَمْرِ أَبْتَـغِى شَبِـيْـهًا لِكـَــىْ أَكـُـوْنَ فَــائِـزًا أَخـِــيْرًا
Dalam hal inilah yang ingin saya tiru agar saya beruntung
di akhir kehidupan saya kelak.
وَاللهَ أَنْ يَحْشُـرَنـَـا وَأَهْـلـَـــــنـَـا مَـعْ صَاحِبِ السِّيْرَةِ فِى دَارِالْمُنَـى
Dan semoga Allah mengumpulkan saya, keluarga saya bersama
sang pelaku sejarah (KH. Moh. Syarqowi dan KH.Moh. Ilyas) di rumah idaman (surga)
كَـتَبْتُ ذَاالـنَّـظْـمَ بِـغَـيْرِ كَامِلٍ لِـقَصْــرِمُخْـــبِرٍ وَثِـيْقٍ شَـامِـلٍ
Saya tulis nadloman ini dengan kurang sempurna, karena
sedikitnya informan (pemberi informasi) yang dapat dipercaya
dan konprehensif
وَإِنْ تَـجِــدْ بِـخَـطَـأٍ فَـصَلِّـــــحَـا وَارْفَــعْ بِـكُلِّ زَلَّــةٍ فَـنَـقِّـحـــــا
Dan jika engkau temui kesalahan (dalam nadloman ini) ,
perbaikilah dan ma’afkan semua ketergelinciran serta koreksilah
لاَ يَنْـفِرُ اْلمَرْأُ عَنِ اْلخـَــطَايــَا لاَيَقْدَحُ اللهُ اْلكَرِيْمُ الـنَّسْـيَـا
Manusia tidak akan menyimpang dari berbagai kesalahan,
Allah Yang Maha Mulia tidak akan mencela kealpaan.
فـَاسْتَغِـفِرُ اللهَ عَلَى هَـفْــوَتِـنـــَا فـَإِنَّ ذِى لـَيْسَ بـِقصْـدٍ مِـنَّـــا
Saya mohon ampunan Allah atas segala keluputan saya, karena sesungguhnya keluputan ini bukan sengaja saya lakukan
وَلَيْسَ اِلْــفَاضِلُ مَنْ لاَ يَغـْلَطْ يَسْعَـى بِتَحْسِـيْنٍ وَلاَيُفَـرِّطْ
Dan bukanlah orang mulia itu adalah orang yang tidak pernah
berbuat salah, tetapi ia berusaha untuk memperbaiki kesalahan itu dan tidak lalai untuk melakukan perbaikan itu.
فَصْلٌ فِى ذِكْرِحَيَاةِ الشَّيْخِ شَرْقَـاوِى بْنِ صَـادِقْ رَامُـو
Fasal : Menerangkan Riwayat Hidup KH. Moh. Syarqowi bin Shodiq Romo (beliau pendiri Pon. Pes. Annuqayah)
فَأَوَّلُ اْلحَيـَاة ِلِلشَّـرْقـَاوِى مُعَـلِّمُ الْـقُرْآنِ لِلْجَـوَارِى
Awal riwayat kehdiupan KH. Syarqowi adalah seorang guru
ngaji al Qur’an bagi tetangga sekitarnya
فَعَزَمَ اْلأَخْـذَعَلَى اْلعُلُوْمِ بِالْعُـلَمَا بِمَكَّـةَ اْلمُكَـرَّمِ
Kemudian ia bermaksud menimba berbagai macam ilmu kepada para ulama di Mekkah Almukarromah
مُذْ سَنَوَاتٍ قَائِمٌ بِبَكَّـةْ فَجَـاءَ شَائِبٌ ) مَـَع اْلحَـرِيْمَةْ
Sejak beberapa tahun ia mukim di Mekkah, maka datanglah seorang yang telah lanjut usia bersama isterinya
وَقِيْلَ قَـدْتَعَـارَفَا فِى السَّفَرَةْ نَحْوَاْلحَـرَامِ مَكَّـةَ اْلمُكَـرَّمَـةْ
Ada yang mengatakan, keduanya bertemu dalam
perjalanan (di atas kapal laut) menuju tanah haram; Mekkah
Al Mukarromah
جَـاءَإِلَيْهِ عِنْدَأَدَّى الْحَجَّـــا مَـعَ خُضُوْعِهِ وَقَالَ لَجَّـــا
Ia datang menghadap KH. Syarqowi usai menunaikan ibadah haji dengan rendah hati ia berkata gugup
بِأَنَّنِى أَخِى يُصِيْـبُنِى اْلمَــرَضْ كَأَنَّ قُدْرَةَ اْلإِلَهِ قَدْقَبَضْ
Sesungguhnya saya sakit, wahai saudaraku, seakan-akan
takdir Allah telah menggengamku
وَقَالَهُ الشَّائِبُ كَالْوَصِـيَّةْ اِنْكِِـحْ أَخِى حَرِيْمَتِى خَدِيْجَةْ
Selanjutnya orang itu berkata, seperti halnya wasiat : Nikahilah
isteri saya: Khodijah, wahai saudaraku
وَقِيْلَ قَاَل شَائِبٌ فِى السَّفَرَةْ ذَا اْلقَـوْلَ كَانَ مَعَـهُ حَـرِيمْـَـةْ
Ada pula yang mengatakan: ucapan orang tua itu (KH. Abuddin)
bersama isterinya disampaikan kepada KH. Syarqowi
(di atas Kapal, ketika keduanya saling berkenalan)
تُوُفِّىَ الشَّائِبُ بِالْعَـتِـيْـقِ نَفَّذَهَاالشَّـيْخُ بِفِعْـلٍ حـَــــقِّ
Orang tua itu wafat di Mekkah dan KH. Syarqowi melaksanakan wasiat itu dengan serius
فَاعْـلـَمْ أَخِى بِأَنَّ لِلشَّرْقَاوِىْ زَوْجَةَ اِثْـنـَتَـيْنِ فِى اْلـقُـدُوْسِى
Ketahuilah, saudaraku, bahwa KH. Syarqowi (sebelumnya) telah
memilki dua isteri di Kota Kudus
تُقَالُ بِاسْمِ سِتِّى حِرْزٍ يُعْرَفُ وَبِسَبِيْنَةٍ كَذَاكَ مَعْــــرُوْفُ
Nama isteri (yang pertama) adalah siti Hirzin dan (isteri kedua)
dikenal dengan nama Sabinah
قـَدْعَقَدَالنِّـكَاحَ فِى اْلمَدِيْنَـةْ تُقَالُ بِالْقُدُسِ اِلْمَعْرُوْفَةْ
Pernikahan kedua isteri ini berlangsung di sebuah kota (Jawa Tengah) disebut dengan kota Kudus yang terkenal hingga saat ini
وَذَلِكَ التَّزْوِيْــجُ قَبْلَ رَحْـلِهِ إِلىَ اْلمُكَــرَّمَـةِ بَـيْـتِ رَبـــِّهِ
Perkawinan itu berlangsung sebelum KH. Syarqowi berangkat menunaikan Haji ke Mekkah Al Mukarromah; rumah Tuhannya
وَمَاوَجَـدْتُ اِلْبَـيـَانَ الشَّـامِـلاَ عَنْ مُدَّةِ الـتَّزْوِيْــجِ قَبْـلَ رَحْلاَ
Saya tidak mendapatkan penjelasan yang sempurna mengenai
Waktu perkawinan beliau di Kudus sebelum berangkat Haji
زَوَجَـتُـهُ الثَّـالِثَـة ُاْلمُطِيْـــعَـةْ نَادَى إِلَيْهَا اْلأَهْلُ بِاْلخَدِْيجَـةْ
Sedangkan isteri ke tiga adalah wanita yang ta’at,
penduduk biasa menyebutnya dengan nama Khodijah
وَوَلَـدَتْ بِقَـرْيَةٍ قَـرِيْـبَـةْ بِشَاطِئِ اْلبِحَارهِىْ مُقِـيْمَةْ
Khodijah di lahirkan di sebuah desa dekat dengan Pantai
dan ia tinggal di sini
وََسُمِّيَتْ بِقَـرْيَةٍ بَرِنْدُوَانْ عــَاشَتْ بِهَا مـَعْ َزَوْجــِهـَا مُنْـذُ الـزَّمَنْ
Desa itu disebut Prenduan. Khodijah hidup bersama suaminya
(KH.Abuddin, alias Kyai Gemma) di desa ini sejak dahulu kala
يُعْرَفُ زَوْجُهَا ِبجُـوْْدٍ وَكَرَمْ كَـذَاكَ مَعْـرُوْفٌ بِأَنَّهُ الدَّوَامْ
Suaminya (Kyai Gemma) dikenal dermawan. Juga dikenal
Dawaamul Wudlu’
فِىْ حِفْظِ بُـطْلاَنِ ُوضُوْءٍوَكَذَا قِيـَامُ لَيْلَةٍ كَـفَرْضٍ نُفِذَا
Yaitu memelihara batalnya wudlu’ dan melaksanakan
sholat malam, seperti melaksnakan sholat fardlu
وَمِنْ صِفاَتِهِ الَّتِى قَدْعُرِفَتْ بِأَنَّـهُ مِـنْ أَغْنِيَاءٍقُـرِّرَتْ
Dan dari sifat-sifat beliau yang lain, ia dikenal sebagai
orang kaya yang telah diakui kebenarannya
فَرَجَـعَ الشَّيْخُ إِلىَ وَطَنِـهِ وَكَانَ قَائِمًابِبَيْتِ عِرْسِـهِ
Kyai Syarqowi kembali pulang ke tanah airnya (Indonesia)
Kemudian ia mukim di rumah isterinya
بِقَرْيَةٍ بَرَكَائَنْ يُقِـيْـــمُ مَعْ زَوْجَـةٍ مَصُوْنَةٍ يُعَلِّـمُ
عَلَى البَنِيْنَ وَاْلبَنَاتِ فِيْــهَا قِـرَاءَةَ الْقُرْآنِ مَعْ تَجْـوِيْدِهَـا
Di desa Prenduan (Kecamatan Pragaan) ia mukim
bersama isterinya yang tahu diri, ia mengajar membaca Al Qur’an serta Tajwid-nya kepada anak-anak laki dan perempuan di desa ini
قَامَ بِهَا مُذْسَنَوَاتٍ حُسِبَتْ وََلَمْ تَزَلْ شَرِيْعَةً إِنْـتَشَرَتْ
Dihitung sejak beberapa tahun, KH. Syarqowi mukim di desa ini dan senantiasa Syari’at Islam tersebar di sini
فَـرَزَّقَ اللهُ لَــهُ ذُرِّيـــَّــــةْ عَـدَدُهُـمْ ثَانِيَةْ عَشْرَنسلَةْ
Di desa inilah KH. Syarqowi dianugerahi rizqi oleh Allah
berupa anak-anak, jumlahnya 12 orang keturunan
بَعْدَسِنِيْنَ قَائِمًا فَهَجَـرَا إِلىَ غُـوْ لُـؤْ ـ غُـوْ لُـؤْ هُمَا فَـقَــائِمَـا
Beberapa tahun kemudian ia dan isterinya hijrah ke
desa Guluk-Guluk dan mukim di desa ini
فَـعَـلَّمَ اْلـقُرْآنَ لِلـطَّـلَــبَةِ فِى اْلكُوْحِ اِلصَّغِيرِْلِلـزَّرِيْبَةِ
Ia mengajar Al Qur’an kepada siswa-siswi desa ini
di sebuah gubuk kecil bekas Kandang Kuda
أَنْشَأَ فيِـْـهَا مَعْـهَدًا تَـرْبِـيًّـا فِى أََرْضِ لُوْبَغْسَايُقِيْمُ سَابِقًـا
KH. Syarqowi mendirikan lembaga pendidikan di atas tanah
bernama LUBANGSA di Desa Guluk-Guluk dan ia mukim
di sini sejak dahulu
فَنَكَحَ الشَّيْخُ بِسِتِّى مَارِيَةْ مِنْ هَذِهِ قَدْ نَسَلَتْ ذُرِّيـَّــةْ
Kemudian beliau kawin lagi dengan Nyai Mariyah (Murid ngajinya) dan dari gadis nilah lahirlah beberapa keturunan
وَهِـى طَالِبَــةُ اِلْقُــــــــــــرْآنِ بَيْنَ يَدَيْهِ هِـىَ مِنْ فَطَافَـنِىْ
Dia (Mariyah) murid yang belajar membaca Al Qur’an
dihadapan KH. Syarqowi. Ia dari kampung Patapan.
فَصْـلٌ فِى ذِكْـرِ صِفَاتِهِ وَنـَسَبِهِ مِنْ جِهَةِ أُمِّـهِ
Fasal : Menerangkan Sifat-sifat KH. Ilyas dan Keturunannya Dari Sisi Ibunya
يَقُـوْلُ وَالِـدِى مُحَمَّدْ عَـامِرْ رَحِمَهُ اللهُ اْلـعَظِـيْمُ اْلـقَـاهِـــرْ
Almarhum Ayahku KH. Moh. Amir Ilyas – Semoga Allah Yang
Maha Agung dan Maha Dahsyat ‘Adzabnya Merahmatinya – berkata :
صِفَاتُ جَــدِّ نَــا هُـوَ اْلـَعـلاَّمَـةْ كَذَاحَلِـيْمٌ وَرَعٌ وَرَأْفـَـــةْ
Sifat-sifat kakek saya (penulis), yaitu KH. Moh. Ilyas adalah
sangat alim, demikian pula ia lemah lembut, waro’ dan santun
وَهُـوَشَيْـخٌ ذُوْخَـفِيْـفِ اْلجـَانِـبْ يُحِيْـطُهُ اْلإِخْــوَانُ وَاْلأقَـَارِبْ
Ia seorang kyai yang mudah bergaul, saudara dan kerabatnya
senang bergaul dengannya
مُحَمَّـدٌ إِلْيَاسُ نَجْلُ اْلـقُدُسِى َوالِدُهُ سُـمِّىَ بِـالشَّـرْقـَــــاوِى
KH. Moh. Ilyas adalah putera keturunan Kota Kudus, ayahnya
bernama KH. Moh. Syarqowi
وَجَـدُّهُ صَـادِقُ رَامُـوْ يُلْقَـبُ وَهْـوَ وَجِيْهٌ عَارِفٌ مَحْبـُـوْبُ
Kakeknya bernama Shodiq Romo (Romo adalah julukan bagi
seorang guru). Ia tokoh masyarakat, alim dan dicintai masyarakatnya
وَأُمُّـهُ تُـدْعَى بِسِتِّـى مَارِيـَـةْ نَكَـحَـهَارَابِـعَــةً مِنَ اْلمـَــــــرَةْ
Sedang ibu (KH. Ilyas) dipanggil dengan nama Nyai. Mariyah.
Ia persunting sebagai isterinya yang ke empat kalinya setelah Nyai. Khodijah (juga Ny. Hirzin dan Ny. Dabinah)
بِنْتِ مـُدَرٍّوَهْوَ مِنْ فَطاَفَـنْ مِنْ عِـتْرَةٍ شَرِيْفَةٍ ذَوِى ْالحِسَـانْ
Ayah Nyai. Mariyah bernama Kyai Mudarrin dari sebuah Kampung; Patapan dari keturunan keluarga mulia yang mempunyai kebaikan
نَحْـنُ نُرَتِّبُ بِسِلْسِلَـتِـهَــا مِنَ الـرَّسُــوْلِ اِلأمِـــيْنِ طَـــهَ
Saya akan menyusun secara tertib silsialah Nyai. Mariyah
Yang bersambung hingga Nabi Muhammad
Rasulullah SAW yang dijuluki al Amin
سَـمِعْتُـهَامِنْ عَـمِّ اِبْنِ خَازِنْ يُدْعَى بِِثَـابِتْ قَـامَ فِى سَـوَاجَــرٍ
Silsilah yang akan saya tuliskan ini, saya dengar dari paman saya bernama KH. Moh.Tsabit Khazin yang kini mukim di Sawajarin
مِنَِ النَّبِىْ مُحَمَّدٍخَيْرِ اْلـوَرَى فَاطِمَةْ زَوْجَةُ ِعَلِى أَهْلِ الـتُّـقَى
Putera Nabi Muhammad SAW sebaik-baik makhluq Allah SWT adalah Fathimah Az-Zahro’ bersuamikan Sayyidina Ali r.a. yang ahli takwa
ثُمَّ حُسِينْ سِبْطِ الرَّسُـوْلِ اْلأَمِينْ وَإِبْـنُهُ عَـلِـيُّ زَيْـنَ اْلـعَابِدِينْ
Kemudian puteranya adalah Husien, cucu Rasulullah SAW al Amin dan puteranya bernama Ali Zainul ‘Abidien
ثُمَّ يَـلِـى مُحَمَّــدٌ اَلــْبَـاقِـــــرْ هُـوَ مِنَ ابْناءٍ عَلِيِّ الـصَّـــابِرْ
Kemudian puteranya Muhammad al Baqir, ia adalah salah satu putera Ali Zainul Abidien yang penyabar
فَجَعْـفَرُ الصَّادِقُ وَهْـوَ إِبْـنُهُ هُـوَ مِنَ الـزُّهّادِ رَاهِلْ قَـلْبـُـهُ
Ja’far as-Shodiq adalah putera Muhammad al Baqir. Ia termasuk Orang yang zuhud dan lembut hatinya
أَمَّامُـوْسَى فََـإِبْنُ جَعْـفَرِ ا لْكَاظِمْ وَهْوَ اْلكَرِيـمُ اِلأَمِيْنُ وَاْلحَلِيْم
Sedangkan Musa al Ridlo adalah putera Ja’far as Shodiq al Kadzimi, dia berjiwa mulia, amanah dan santun
فَعِـنْدََهُ إِبْنٌ عَـلَـيُّ اِلـرِّضَـى ذُو ابْـنٌ محمَّـدُالـنَّـقـيبُ اِرتـَضى
Ali ar Ridlo mempunyai putera bernama Muhammad an Naqieb yang di diridloi Allah SWT
وَإِبْـنُهُ عِيْسَى كَـذَا اْلمُهَـاجِـرُ ثُـمَّ عَبـِيدُ اللهْ وَعَـلْوِى يـُذْكَرُ
Diterangkan bahwa putera Ali ar Ridlo bernama : Isa an Nqieb mempunyai putera bernama Ahmad al Muhajir Ilallah , puteranya bernama ‘Abidullah, puteranya bernama ‘Alwi.
إنَّ لَـهُ إِبْـنًـا مُحَـمّـَدٌ عـَــلِـيْ عـَـلـْوِىْ خَـــلَــعْ قَسَمُ مِـنْ أ نْـســــَـال
Dan Alwi mempunyai putera bernama Muhammad, selanjutnya Muhammad epunya putera bernama ‘Alwi, puteranya Khola’ Qosam. Mereka adalah sebagian keturunan Syiidina Ali r.a.
ولِخَلَعْ إبنٌ يُسَمَّى صَاحِبُ وَلَـدُهُ عَلـَوِى هُـو النَّـجيــــبُ
Bagi Kholak mempunyai putera bernama Shohib, puteranya
bernama ’Alawi yang pintar
عَبْـدُ اْلمَلِكْ وَعَبْـدُ اللهْ شَاهٍ شَـهْ أَحْمَدُاِلكُــْبرَىَ يـُلـقَّبْ بالشَّـــهْ
Puteranya bernama Abdul Malik, puteranya Abdullah Syahi Syah, puteranya Ahmad Al Kubro yang dijuluki Syahin Syah
وَمَوْلاَنَا اْلحُسَينْ وَإِبْرَاهِـيْمُ سُوْنَنْ أَمْفِيْلْ هُـوَالَّذِى مَعْـلُوْمُ
Sedangkan pueteranya bernama Maulana al Husien (Jamaluddin al Kubro Maulana al Husien) mempunyai putera Maulana Ibrahim (Zainul Akbar Maulana Ibrahim) yang dikenal dengan julukan SUNAN AMPEL
فَاِسْــمُهُ عَلِــيُّ رَحمْـَــةِ اللهْ وَاللهَ أَنْ يَغْـفِــرَلَـهُ ذُنُـوْبـَــــهْ
Bernama Ali Rahmatillah, semoga Allah SWT mengampuni
dosa-dosanya
وَإِبْنُهُ مُحَمَّدٌ قـَـاسِـمْ يُرَى مَقْبـَرُهُ يُـعْـرَفْ ِبجَاوَى ْالوُسْطَى
Sunan Ampel mempunyai putera bernama Muhammad Qosim yang kuburnya dapat diketahui di Jawa Tengah
وَهْوَ اْلمُـلَقَّبُ بِسُوْنَـنْ دَرَاجَـةْ مِـنْ أَوْلِـيَـاءِتِسْعَةٍ قَـدْنجَـَـحَتْ
Ia dijuluki dengan Sunan Derajat , salah satu wali-wali sembilan yang memperoleh keuntungan dari Allah SWT
فَـإِنَّ لِلْـقَـاسِمِ إِبْـنـًا صَالحِـَـا وَاِسْـمُهُ فَغِـيْرَانْ مُوْسَى سَامِـحَــا
Qosim mempunyai putera yang salih, namanya disebut dengan Pangeran Musa yang bertabiat toleran
أمَّــارَادِنْ خَـطِيْــبُ مِـنْ أَوْلاَدِهِ ثُمَّ عَـلِيْ جَنْـدَانَــةْ مِنْ أَ نْسَالِهِ
Salah satu keturunan Pangeran Musa bernama Raden Khotib yang mempunyai putera bernama Ali yang dijuluki dengan Kyai Candenah
ِلعَليٍّ إِبْنٌ رَادِنْ شِيْـثُ اسْمُهُ مِنْ ذَا الـرَّجُلْ قَـدْ نَـسَلَتْ عِـْترَتُهُُ
Ali Kyai Candanah (Nama desa di Kabupaten Pamekasan)
mempunyai anak bernama Raden Syits. Lahirlah keturunan
yang lain dari lelaki ini
مِنْ بَيْنَِهايُدْعَـى عَبْدُ اْلكَرِيْمِ لاَ نَعْـرِفُ اْلحَيَـاةَ اِلْـمُحْتَــــرَمِ
Di antaranyadipanggil dengan nama Abdul Kariem, namun saya tidak tahu riwayat hidup beliau yang mulia ini.
فَـرَضَعَـتْ زَوْجَتُــــهُ أَوْلاَدَا بَيْنَهُـمُ الصِّـدْقِــيُّ كَانَ عَـــابِـدَا
Isteri Kyai Abdul Kariem ini melahirkan beberapa putera, diantaranya bernama Abdus Shidqie yang ahli ibadah
عَـبْـدُاْلأَخِــْيرِ إِبْنُ اِلقَرِيْـبِ مُرْضِـيَّةٌ يَاهِى كُوْمُـؤْ فِى لَـقَـبِ
Putera berikutnya adalah Abdul Akhir, ia adalah putera Abdul Qorieb punya putera bernama Murdliyah yang di juluki dengan Nyai. Gumu’
فَـنَـسَلـَتْ مُرْضِــيَّـة ٌمـُـدَرًّا أَوَّلُ مَنْ تَلِـدُ إِبْنًا ذَكَــــــرًا
Dari Nyai. Murdliyah inilah lahir keturunan bernama Kyai Mudarrin. Anak laki-laki yang dilahirkan pertama kali
تَقُوْمُ فِى الْحَـارَّةِِ اِْلمَهْجُورَةْ بِفَـطَافَـانْ يُدْعَـى لَهَا مَعْـرُوْفَةْ
Nyai Gumu’ itu bertempat tinggal di Kampung terpencil
yang dikenal (hingga sekarang) dengan nama Patapan
(Kecamatan Pragaan Kabupaten Sumenep)
ثُـمَّ تَـزَوَّجَ فَـتَــاةً فِيْهَـــــــا قَـدْوَلَدَتْ مَـارِيَةٌ فِى بَيْـتِــهَا
Setelah Kyai Mudarrin kawin dengan seorang gadis, maka
lahirlah (dari gadis itu) seorang wanita yang kemuadian
dikenal dengan bernama Mariyah
زَوَّجَـهَـا الشَّــرْقـَاوِىُ اْلـقُـدُوسِى وهْـىَ مُطِـْيـعَةٌ كَــزَوْجَـةِ عـَــلِى
Nyai Mariyah inilah, kemudian dikawin oleh KH. Syarqowie al Qudusi. Dia adalah wanita yang ta’at kepada suaminya seperti keta’atan isteri Sayiidina Ali r.a: Fatimah A zzahro’ pada suaminya
قَـدْ وَلَدَتْ مَارِيَةٌ أَوْلاَدَا سَبْعَةَ أَوْلاَدِاعْـرِفِ التَّفْصِيلا
يـَسٍ وَإِلْيَاسٌ وَعَبْدُ اللهْ سِـرَاجْ عَبْدُاللهْ سَجَّادْ قَـدْتُوُفِّى بِاْلبَهَــجْ
عَبْـدُاْلمَالِكْ وعَائِشَـةْ يَلِيهِمُ ونَـاعِـمَةْ بنتُ أخَـْيرََةْ فَاعْـلَمُوا
Nyai Mariyah telah melahirkan 7 (tujuh) putera puteri Hendaklah engkau tahu perinciannya, yaitu Yasin (wafat masih kecil), Ilyas, Abdullah Siroj, Abdullah Sajjad, beliau meninggal dengan senang dan bahagia (karena meninggal di ujung senjata penjajah Belanda dan termasuk salah seorang pahlawan Indonesia), kemudian Abdul Malik (wafat masih kecil), kemudian ’Aisyah serta puteri bungsunya bernama Na’imah (wafat masih kecil). Hendaklah engkau mengetahui
فَصْلٌ فِى ذِكْـرِتَـزْوِيْجِــهِ وَأَوْلاَدِهِ
Fasal : Menerangkan Perkawinan KH. Moh. Ilyas dan
Putera-puterinya
تَزَوَّجَ الشَّـيْخُ سِتِى عَـرْفِـيَّــةْ وَهْىَ مُطِيْـعَةٌ لَهُ بِالْـخِـدْمَــةْ
KH. Ilyas kawin dengan Nyai ‘Arfiyah, wanita ta’at dalam melayani setiap kebutuhan suami tercinta
قَدْوَ لَدَتْ مِنْهَا اْلبَنُوْنَ وَالْبَـنَاتْ عَــَددُهُمْ وَاحِـدْ وَعَشْـرٌعـُـرِفَتْ
نَـذْكُــرُ ِاسْـمَهُمْ مِنَ الرِّجَــالِ خَـازِنْ وَعَامِرٌوَعـَاصِـمٌ يـَلِـى
عَبْـدُاْلـوَارِثْ ثُمَّ هِشَامُ نَذْكُـرُ مِنَ الِّنسَاءِ يَـاأَخِى فَلْيَقْــرَءُوْا
مَحْفُـوْظَةٌ صِـدِّيـقَةٌ مَمْدُوْحَـةْ كَذَابَدِيْعَـةْ وَشِفَاوَنَاضِــرَةْ
Nyai ‘Arfiyah telah melahirkan beberapa putera dan puteri,
jumlahnya diketahui sebanyak 11 orang. Akan saya terangkan nama puteranya, yaitu : K. Khozin, KH. Moh. Amir, KH. Moh. Ashim, KH. Abd. Warits K. Hisyam (wafat masih kecil akan saya terangkannama-namaputerinya, yaitu : Ny. Mahfudzoh, Ny. Shiddiqoh (keduanya wafat masih kecil), Nyai Mamduhah, Nyai Hajjah Badi’ah, Nyai Hajjah Siyifa dan Nyai Hajjah Nadzirotun
فَصْـلٌ فِى ذِكْـرِ أَ نْـسَالِـهِ
Fasal : Menerangkan Keturunannya
ثَـلاَ ثَـةْ أَوْلاَدٍ لِخَـازِنِ بَهَـــجْ ثـَابِتْ وَوَاقِدٌكَذَاأُم َّاْلفَــرَجْ
Kyai Khozin (yang wafat) dengan bahagia mempunyai
tiga putera-puteri, yaitu KH. Tsabit, KH. Waqid dan
Nyai Hajjah Ummal Faraj
وَسُـمِّيَتْ زَوْجَــتُـهُ مُعـَـــــاذَةْ وَالِدُهَاعَبْدُاللهْ سَجَّـادْمَرْحُـوْمَةْ
Isteri beliau diberi nama Nyai Hajjah Mu’adah, ayahnya bernama KH. Abdullah Sajjad yang terpelihara
dari perbuatan ma’shiyat
تُدْعَى بِمَحْفُوْظَةْ لِـبِِنْتٍ ثَانِيَّةْ مِنْ شَيْخِ إِلْيَاسٍ هُوَاْلعَلاَّمَةْ
Puteri kedua dari KH. Moh. Ilyas yang yang sangat ‘alim itu
adalah Nyai Mahfudzah
وَزَوْجُـهَـا هُو اْلعَالِمُ اْلمُشَرَّفُ عَلِى مَـكِّىُّ كَامِلٌ فـَلْـتَعْـرِفُوْا
Suaminya adalah KH. Ali Makki, orang yang alim lagi dimuliakan dan sempurna lahir batin. Ketahuilah, wahai saudaraku
قَدْوَلدَتْ بِنْتَـانِ مِنْ مَحْفُوْظَةْ أُمَّـامَـةٌ وَأُخْتُــهَـا بــــِــــزَارَةْ
Nyai Mahfudzah melahirkan dua orang puteri bernama Nyai Hajjah Ummamah dan saudarinya bernama Nyai Bizaroh
تَزَوَّجَتْ أُمـَّامَـةْ بـِالْـبـَشـِــيْرِ هُـوَابْنُ عَبْدِاللهِ سَـجَّادْمـَادُرِى
Nyai Ummamah bersuamikan KH. Ahmad Basyir, dia putera KH. Abdullah Sajjad dari Madura
وَوَلـَدَتْ بَـنَــاتِ وَاْلـبَــنِــــيْنَ نَذْكـُرُإِسْـمَهُـمْ وَخُـذْ بَيَانَا
Dan Nyai Ummamah melahirkan putera-puteri, akan saya sebut nama mereka dan ambilah keterangannya, yaitu :
لـَيِِّّـنَةْ سَهْلٌ أَعْلَى عِفـَّةْ نَفْحَـةْ عَــيْنُ اْلـيَـقِـيْنِ حَــزْمِـى أُ سْـوَةْ حَسَـنَـةْ
Ny. Hajjah Layyinah, K. Sahel (wafat masih kecil), KH. Abd. A’la, Nyai ‘Iffah (wafat masih kecil), Nyai Hajjah Nafhah, K.’Ainul Yaqin, K.Hazmi dan Ny. Uswatun Hasanah
فـَرَجَعَتْ صِـدِّ يْـقَةْ فِى الصِِّــغـَارِ إِلَـى إِلَـهِ رَبِّنَــااْلخـَبِــــــيْـرِ
Sedangkan Nyai Siddiqoh(wafat masih kecil), adalah puteri ke tiga dari jumlah putera-puteri KH. Moh. Ilyas
أَمَّالِمَمْـدُوْحَةْ فَأَرْبَـعُ بَـنـَـاتْ أَرْبَعـَـةٌ مِـنَ اْلـبَـنِـيْنَ وَلَدَتْ
عَـبْدُ وَاْلوَدُوْدِ وعَـبْدُ الـرَّحْمَنِ قُــدْسِى وأَحْمَدْ مُجْـتَبَى إخوانى
Sedangkan Nyai Mamduhah melahirkan empat puteri dan
empat putera, yaitu : KH. Abdul Wadud, K.Abdurrahman (wafat masih kecil) , K. Qudsi dan almarhum KH. Ahmad Mujtaba. Ketahuilah wahai saudaraku
مِنَ اْلبَنَاتِ مَيْمَانَةْ وَمَعْصُـوْمَةْ صَبَاحَةٌ كَـذَاكَ بـَرّةْ نَقِـيَّـةْ
Dari puterinya adalah Nyai Maimanah (wafat masih kecil), Nyai Ma’shumah, Nyai Shobahatun, demikian pula Nyai Barroh Naqiyah
ثـُم َّمُحَمَّدْ عَـامِـرٌ أَخـُـــوْهـَـا زَوْجَـتُـهُ ثَـمِيْـنـَةٌ رَحِـمَــهَـا
Kemudian KH. Moh. Amir Saudara Nyai Mamduhah. Isterinya bernama Nyai. Hajjah Tsaminah (puteri KH. Moh. Djauhari) – semoga Allah me-rahmatinya -
أَوْلاَدُهُ أَرْبَـعَــة ٌقـَدْذُكِــــــرَتْ مُيَـسَّرَةْ حَبِيْبََةٌ مِنَ اْلبَنَاتْ
Anak-anaknya diterangkan 4 (empat) putera-puteri. Yang puteri :Nyai Hj. Muyassaroh, Nyai Hajjah Habibah Al Husna
أَحْـمَدُسَـعْـدِى وَ مُحَمَّدْمُـحْـسِنْ قـَدْرَجَـعَ السَّعْدِىْ إِلَى اْلمُهَيْمِنْ
Yang putera adalah KH. Ach. Sa’di, KH. Moh. Muhsin. KH. Ach. Sa’di telah pulang; menghadap Allah Yang Maha Memelihara
مُحَمَّدْعـَاصِـمُ ابْنُ شَيْخٍ إِلْيَاسْ وَهُوَ إِبْنٌ سَادِسٌ ذُوْأَكْيَسْ
KH. Ashim adalah Putera KH. Moh.Ilyas, ia putera ke enam
yang berakal cerdas
فَـوََلَـدَتْ زَوْجَـتُــهُ مَـيْسَـــرةٌ سَـبْعَـةَ أَوْلاَدٍ هُـــمُ بَـنـَـــاتٌ
إِلاَّ لِـوَاحِـدٍ مُـحَمَّـدْ نَـوْفَـــــلْ هُوَابـْنُ ثَـانٍ مِنْهُـمُ ذَوِى الـنِّحَلْ
حَنُـوْنُ فَيْحَةُ النَّجُوْدُ عَـاصُولْ عَفَافُ فَاطِمَةْ تُقَالُ أَلْبَـتُولْ
Maka lahirlah isterinya bernama Nyai Hajjah Maisaroh sebanyak tujuh puteri, kecuali satu putera, yaitu KH. Naufal adalah putera kedua dari beberapa puterinya yang mempunyai kecenderungan beragama yang kuat. Mereka adalah, Nyai Hajjah Maryam al Hanun, Nyai Grace Faycha, Nyai Lubna an Najud, Nyai Hajjah Waznah al ’Ashul, Nyai Hajjah Afaf al ’Athuf (sejak beberapa tahun silam tinggal di Mekkah bersama suaminya Syekh Halim bin Syekh Al ‘Allamah Dardum al Palembangi) dan Nyai Hajjah Fathimah disebut al Batul
فَسِـتَّـةْ أَبْنَاءِاْلبَـدِيْعـَةِ اْلمَصـُــــوْ نَةِ سَنَذْكُرْ إِسْـمَهُمْ لاَتَنْقُصُوا
يُدعَى بِإِحْسَانِيَّـةٍ وَحَـمْـدِىْ َرْمضَانْ عَـطَـارِدْ وَكَـذَا إِلْـيَـــاسِى
وَقَبْلَ إِلْيَاسِى مُحَمَّدْ مَلْطُوفْ وَهُـمْ يَعِيِْشُوْنَ بِأَكْمَلِ الشَّرَفْ
وَزَوْجُهَـاسِرَاجُ الدِّيْنِ اْلـعَـالـِمُ لِلْمَعْهَدِاْلإِسْلاَمِى هُُـوْمُعَــلِّمُ
Enam jumlah putera Nyai Hajjah Badi’ah binti KH. Moh. Ilyas. Yang terpelihara. Akan saya terangkan nama-nama mereka jangan engkau kurangi. Dipanggil dengan nama Nyai. Hajjah Ihsaniyah, KH. Hamdi, KH. ’Athorid dan demikian juga KH. Ilyasi. Putera yang lahir sebelum Ilyasi bernama KH. Malthuf . Mereka semuanya hidup dalam kemuliaan (dan kecukupan harta)yang sangat sempurna. Suami Nyai Hajjah Badi’ah bernama KH. Sirojuddin yang alim, seorang guru di Lembaga Pendidikan Islam
أَوْلاَدُ سَيِّـدَةْ شِـفَـا ثََمَـــانِــيْ عَـفِيْـفُ أَحْمَدُ حَنِيْفْ وَبَصْـرِى
ثُمَّ حَمِيْـدِى وَنَقِيْبٌ قَـدْأَتَـى بَعْدَمُحَمَّدٍ فَرِيْدِ يَـافَــتَى
عَقِبَهُ فَتْحَةُ الرَّحْمَةْ تُـدْعـَـــى بِنْتٌ وَحِيْدَةٌ وَلَيْسَتْ أُخْرَى
وَإِبْنُهَـااْلبِكْـرِىْ مُحَمَّد يُذْكَرُ أَرَادَهُ اللهُ الرُّجُوْعْ وَيَحْشُرُ
Sedangkan putera Nyai Hajjah Syifa delapan orang, yaitu :
KH. Moh. Afif, KH. Ahmad Hanif, KH. Moh. Basri, kemudian KH. Hamidi dan K. Naqib. Setelahnya K. Moh.Farid, wahai pemuda. Setelah K. Farid Ny. Hajjah Fathaturrahmah, Puteri satu-satunya; tidak ada lainnya Dan putera sulungnya disebut Muhammad, namun Allah Menghendaki pulang ke Hadirat-Nya dan aka mengumpulkan (dengan kedua orang tuanya di akhir masa)
وَإِسْــمُ زَوْجِـهَــا حََسَــنْ بَـصْــــــرِىِّ قَـدْعَادَسَـابقًا إِلَى ذِى اْلبَـارِىْ
Suami Nyai Hajjah Syifa dikenal dengan nama K. Hasan Bashri. Beliau berpulang ke Hadirat Allah Tuhanku dahulu kala
ثُمَّ عَبْدُ اْلـوَارِثِ مِنْ أَبْنـَائِــهِ وَهُـوَ إِبْـنٌ تـَاسْعٌ مِـنْ عتْرِهِ
Kemudian KH. Abdul Warits, salah satu putera KH. Ilyas. Ia putera kesembilan dari keturunan KH. Moh. Ilyas
زَوْجَـتُهُ نُـوْحِــيَّـةٌ مَصُـــوْنـَةْ قَـدْوَلَـدَتْ مِنْهَا فَتَـاةٌ سِـتَّـةْ
قُـرَّةُ اْلـعَـيْنِِ ثُمَّ اسْـتِــــــفَاذَةْ خَطِيْـبَةُ اْلأُمَّـةْ كَـذَاكَ نَـيْـلَـةْ
صَـافِـيَةٌ وَنُورْدِيَـانَةٌ كَــــذَا مِنَ اْلبَنِـيْنَ اِثْنَـتَانِ عَــــدَدَا
هَُـوَعـَلِىْ فِـكْـرِيِّ إِبْنُ ثـَـانٍ وَبَعْدَهُ مُحَمَّدٌصَلاَحُ الدِّينْ
Isterinya bernama Nuhiyah yang terpelihara. Dari wanita inilah lahir Enam orang puteri, yaitu : Nyai. Qurrotul ‘Ain, Nyai. Istifadzah, Nyai Khotibatul Ummah, demikian pula Nyai Nailah, Nyai Shofiyah dan berikutnya Nyai Nurdiyanah Sedangkan dari putera ada dua jumlahnya, yaitu : K. Ali Fikri putera kedua dan KH. Moh. Sholahuddin (dari puteranya)
نـَاضِـرَةٌ أَخِيْـرُبِـنْـتِ إِلْـيـَـاسِ رَحِمَـهَا اْلعَـلِيُّ اِلـتَّـقَــدُّسِ
Bungsu putera-puteri KH. Moh. Ilyas adalah Ny. Hj. Nadzirotun – semoga Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Suci me-rahmatinya -
إِنَّ لَهَا بِـنْــــتَــيْنِ إِثْـنَـتَــــــــيْنِ حـِلـْيَةْ وَحُسْنُ اْلخاَتمِـَةْ اِسْمَانِ
Nyai Hajjah Nadlirotun mempunyai dua puteri, keduanya bernama : Ny. Hilyah dan Nyai Husnul Khotimah
ثَلاَثَـةْ أَبْنَاءٍلَهَاقَدْ ذُكِرَتْ شَوْقِى وَعَبَّادِى حَلِيْمِى دُعِيَتْ
Sedangkan nama puteranya disebut dengan nama : K.Ahmad Syauqi, KH. Abbadi Dan K. Halimi. Demikian nama mereka dipanggil
فَـزَوْجُـهَـاالشَّـيْـخُ عِـصَامُ الدِّيْنِ اَلْعَـالِـمُ الوَرَعُ يـَاإِخْــــوَانِى
Suaminya KH. Ishomuddin, ia orang alim, waro’ wahai saudaraku
وَقَـدْتُـوُفِّـىَ بِشَهْــرٍ خَـــــــْيرٍ فِـى أَلْفِ أَرْبَعْمِائَةٍ ثَلاَثِـينْ
Beliau wafat pada bulan yang penuh dengan kebaikan, yaitu (minggu pertama bulan Ramadlan), tahun 1430 Hijriyah (2009 M di Lubangsa Selatan)
فَصْـلٌ فِى ذِكْـرِ نَشْأَةِ ثَـقَـافَـتِـهِ
Fasal : Menerangkan Perkembangan Peradabannya
مُحَمَّدٌ إِلْيَاسُ بَـارِعْ عَــالِـمٌ حَــبْرٌ وَكَاتِبٌ كَــذَاحَـلِـــْيمٌ
KH. Moh. Ilyas adalah orang yang cerdas, alim. Demikian pula
ia orang yang shalih, penulis juga santun
َومِـن ْمُـؤلـَّفَــاتـِـه ِالْـعَظِيْــمَـةْ مَنـْظُوْمَةُ الرِّسَالَةْ فِى اْلعـَقِيْدَةْ
Sebagian karya agung beliau adalah Mandlumah Risalah
dalam ilmu Tauhid (‘Aqidah),
مَنْظُـوْمَةُ السَّفِيْــنَة ِالصَّــــــلاَ ةِ مَجْمُوُعُ ِالخُـطَبِ يـَومَ اْلجُمْعَــةِ
Kemudian Mandlumah Safinatus Sholah dan Kumpulan
Khutbah Jum’at
وَغَيرُهَامُقْتَطَـفٌ فِى التَّرْغِيبْ بَيََّنَ فِـيـْهِ مِن فـُنـُوْنِ التَّهْذِيبْ
Lainnya kitab Muqtathofat fi at Targhieb (lengkapnya: Al Muqtathofat Al Mubarokah fittarghiebi watarhiebi)
وَكَانَ لِلشَّـيْـخِ قَـوِيَّ اْلـحِـفْـظِ َوهْوَ سَرِيْـعُ اْلـفَهْمِ فِى اْلأَلحْاَظِ
KH. Ilyas kuat hafalannya dan cepat faham terhadap pengertian
suatu kalimat yang tersirat
فَصِــيْحَـةُ اْلكَلاَمِ وَاْلـقـِـــــرَاءَةْ سـَلاَسَةُ اْلأَلْـفَاظِ وَالسُّـهُـوْلـَـةْ
Beliau Fasih dalam berbicara, membaca dan tulisanya
dalam karya-karyanya lembut dan mudah (dibaca dan difahami)
مـُمَيِّـِزَاتُ نـَظْمِهِ الـطَّـــــــلاَوَةْ سَهْـلٌ وَعَـذْبٌ سَلِسٌ حَلاَوَةْ
Ciri-ciri nadlomannya indah kedengarannya, mudah difahami,
tawar (puas bagi pembacanya) rasanya dan lancar kata-katanya
serta manis rasanya
وَهْوَ سِيَاسِىٌّ قَـوِىُّ اْلمـَبْـــــدَأْ جِهَادُهُ فِى مَاشُوْمِى قَدْيُبْدَأ
Beliau seorang politikus yang berpendirian. Karir erjuangannya
dalam politik dimulai dari prinsip Partai Masyumi
فـَلـَمْ أَكُـنْ أَعْـرِفُ مَـا يَـفْـعَــلُـهُ مـِنَ الـنَّـشَاطِ اَِّلـذِى نـَفّــــــــذَهُ
Namun saya tidak banyak tahu tentang program-program yang ia lakukan dan laksanakan
وَهْـوَ الـرَّئِـيْسُ الْبَـارِعُ اْلـمَسْــؤُوْلُ يـُقِــيْـمُ فِى اْلمـَقَـــامِ لاَ يُـحَــوِّلُ
Beliau seorang ketua/pemimpin yang cekatan dan bertanggung
Jawab. Ia tetap pendirian dan tidak pernah beruba-ubah
قَـدْرَجَـعَ الشَّيـْخُ إِلىَ اللهِ اْلعـَـلِى تِسْعَةْ وَخَمْسِيْنَ هِىَ اْلمِيْـلاَدِى
Beliau pulang ke Hadirat Allah Yang Maha Pemberi Petunjuk
pada tahun 1959 Miladiyah
سَقَى اْلإِلـَهُ قَــْبرَهُ بِالرَّحْمَـةْ وَاجْـعَـلْـهُ سَاكِـنًـابِـدَارِالـنِّعْـمَةْ
Semoga Allah SWT menyirami kuburannya dengan Rahmat-Nya dan menjadikan surga sebagai tempatnya dengan tenang
الخَــاتِمَــةُ
PENUTUP
الحـَمْــدُ للهِ اَّلــذِى أَتـَمَّــــــــــنـَا فِى نـَظْمِ سـِـْيرَة حَيـَاةِ جَــدِّنَــا
Segala puji bagi Allah Yang telah menyempurnakan kepada saya
dalam menyusun nadloman Riwayat Hidup kakek saya
وَهَـذِهِ اْلمَنْظُــوْمَةُ اْلقَـصِـــــــْيرَةْ كَـتَـبْـتُهَـاعَلَى حِسَابِ اْلقُدْرَةْ
Saya tulis Mandlumah yang pendek ini sesuai dengan
kemampuan saya
وَاللهَ أَرْجُوْ فِى قَبـُوْلِ عَمَلِى مَعَ الرِّضَى عِنْدَانْقِضَاءِأَجَـلِى
عَسَى نَكُوْنُ جَــامِعًـا وَأَهْـلَــنَا مَعْ صَاحِبِ السِّيْرَةِ وَهْـوُ جَـدُّنَا
فِى جَنَّةِ النَّعِيْمِ هِـىْ مَعَـادُنَا تَقَــبَّلَ الله ُاْلعَـلِىْ دُعَـــاءَنَـا
Saya mengharap, semoga Allah SWT menerima amal saya dan
me-ridloinya hingga tiba ajal saya. Semoga kami beserta keluarga kiranya berkumpul dengan pemilik biografi ini, yaitu kakek saya di surga na’iem tempat kembali kami kelak. Semoga Allah Yang Maha Tinggi mengabulkan do’a kami. Amin !
صَلَّى وَسَلَّمَ عَـلَى خَـيْرِ اْلأَنَامْ وَأَلِـهِ وَصَحْبِــهِ ذَوِى اْلكِـــرَامْ
وَهَـكَـذَا مَنْـظُـوْمَـةٌ وَجـِـــــيْـزَةْ فَـارْفَعْ أَخـِى الـزَّلَّـةَ وَاْلخَطِيْـئَةْ
Semoga Rahmat dan Kesejahteraan tetap terlimpahkan kepada sebaik-baik makhluk, keluarga dan sahabat-sahabatnya yang mulia. Demikian Nadzoman yang ringkas ini (saya susun) dengan harapan, kiranya dapat di ma’afkan ketergelinciran pena dan kesalahan yang saya lakukan !
BISIKAN AL-GOZALI UNTUK KITA
Dikirim oleh: Anwar NurisSuatu hari, Sang Hujjatul Islam Imam al-Ghazali berkumpul dengan murid-muridnya yang cerdas dan pintar. Saat berkumpul itu, al-Ghazali mengajukan beberapa pertanyaan kepada beberapa muridnya itu:
“Apakah yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?”. Murid 1 menjawab: “Yang paling dekat dengan kita adalah Orang tua”. Murid 2 menjawab bahwa: “Yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini adalah Guru”. Sedangkan Murid yang 3 menjawab bahwa: “Yang paling dekat dengan diri kita adalah teman atau sahabat”. Dan Murid yang 4 pun menjawab bahwa : “Yang paling dekat dengan diri kita adalah Kaum kerabat”. Mendengar jawaban keempat muridnya itu, al-Ghazali berkata: “Semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita adalah MATI, sebab itu adalah janji Allah bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati. ““Apa yang paling jauh dari kita di dunia ini?”. Murid 1 menjawab: “ Negeri Cina ”. Murid 2 pun juga menjawab bahwa : “Yang paling jauh dari kita adalah Bulan”. Sedangkan Murid 3 menjawab: “ Yang paling jauh itu Matahari”. Dan Murid 4 menjawab bahwa: “Bintang-bintang adalah yang paling jauh dari kita”. Mendengar jawaban-jawaban itu, al-Ghazali berkata: “Semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling benar adalah masa lalu. Bagaimanapun kita, apapun kendaraan kita, tetap tidak akan bisa kembali ke masa lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini, hari esok, dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran agama”.
“Apa yang paling besar di dunia ini?”. Murid 1 menjawab : “gunung”. Murid 2 menjawab: “Matahari”. Sedangkan Murid 3 menjawab: “Bumi”. Mendengar jawaban-jawaban itu, al-Ghazali kemudian berkata: “Semua jawaban itu benar. Tetapi yang besar sekali adalah HAWA NAFSU. Maka kita harus hati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu itu membawa kita ke neraka”
“Apa yang paling berat di dunia ini?”. Murid 1 menjawab: “Baja”. Murid 2 menjawab: “Besi”. Murid 3 menjawab: “Gajah“. Mendengar jawaban-jawaban itu, al-Ghazali berkata: “Semua jawaban itu benar, tetapi yang paling berat adalah memegang amanah.
“Apa yang paling ringan di dunia ini?”. Murid 1 menjawab : “Kapas”. Murid 2 menjawab: “Angin”. Murid 3 menjawab: “Debu”. Murid 4 menjawab: “Daun-daun”. Mendengar jawaban-jawaban itu, al-Ghazali berkata: “Semua jawaban itu benar, tetapi yang paling ringan sekali didunia ini adalah meninggalkan sholat. Gara-gara urusan dunia kita tinggalkan sholat”
“Apa yang paling tajam di dunia ini?”. Murid-muridnya dengan serentak mejawab: “Pedang !”. Mendengar jawaban itu, al-Ghazali berkata: “Itu benar. Tetapi yang paling tajam di dunia ini adalah LIDAH MANUSIA. Karena melalui lidah, manusia dengan mudahnya menyakiti hati dan melukai parasaan saudaranya sendiri”
Sumber: dari berbagai sumber
18 Agustus 2011
AA.NAVIS : ROBOHNYA SURAU KAMI [e-BOOK]
download e-book lengkap cerpen ini? klik disiniDalam buku Robohnya Surau Kami ini terdapat 10 judul cerpen: Robohnya Surau Kami, Anak Kebanggaan, Nasihat-nasihat, Topi Helm, Datangnya dan Perginya, Pada Pembotakan Terakhir, Angin dari Gunung, Menanti Kelahiran, Penolong, dan Dari Masa ke Masa.
Di dalam setiap cerpennya di buku ini, A.A. Navis menampilkan wajah
Indonesia di zamannya dengan penuh kegetiran. Penuh dengan kata-kata satir dan cemoohan pada kekolotan cara pikir manusia Indonesia saat itu - yang masih relevan di masa sekarang ini.
Cerpen "Robohnya Surau Kami" dalam buku ini bercerita tentang kisah tragis matinya seorang Kakek penjaga surau di sebuah desa kecil tempat kelahiran tokoh utama cerpen itu. Sang kakek diceritakan meninggal dengan menggorok lehernya sendiri setelah mendapat cerita dari Ajo Sidi-si Pembual, yang bercerita tentang Haji Soleh yang masuk neraka walaupun pekerjaan sehari-harinya selalu beribadah di Masjid, persis seperti yang dilakukan sang Kakek di surau selama ini. Haji Soleh dalam cerita Ajo Sidi adalah orang yang rajin beribadah, semua ibadah dari A sampai Z ia laksanakan semua, dengan tekun.Tak ada doa yang terlewatkan. Tapi, ketika di padang mahsyar dan saat hisab, dimana pada saat itu manusia akan ditentukan apakah masuk surga atau neraka, Haji Soleh malah dimasukkan ke neraka. Haji Soleh protes pada Tuhan, mungkin dia alpa pikirnya. Tapi, mana mungkin Tuhan alpa, maka dijelaskanlah alasan dia masuk neraka, Tuhan malah bertanya "Engkaukah orang yang tinggal di tanah Indonesia yang mahakaya raya itu? Tapi, engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya berkubang dalam kemisinan?. Aku beri engkau negeri yang kaya raya, tapi engkau malah jadi malas. Engkau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang. Sementara Aku telah perintahkan engkau untuk berikhtiar menggali nikmat yang telah aku berikan dengan ilmumu dan kepandaian akalmu demi kemaslahatan bangsamu?" Merasa tersindir dan tertekan oleh cerita Ajo Sidi, Kakek memutuskan bunuh diri. Dan Ajo Sidi yang mengetahui kematian Kakek hanya berpesan kepada istrinya untuk membelikan kain kafan tujuh lapis untuk Kakek, lalu pergi kerja.
Sumber: File pribadi Admin



